Demikian diakui Direktur Intelijen Nasional AS Dennis Blair pada Komite Intelijen DPR AS seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (4/2/2010).
"Kami mengambil tindakan langsung terhadap para teroris di komunitas intelijen," kata Blair. "Jika kami pikir tindakan langsung itu melibatkan pembunuhan seorang warga AS, kami meminta izin khusus untuk melakukan itu," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya harian The Washington Post memberitakan, Presiden Barack Obama juga menganut kebijakan mantan presiden George W. Bush soal pembunuhan warga AS yang terlibat dalam aktivitas teroris di luar negeri. Media tersebut mengutip pejabat-pejabat AS yang dirahasiakan identitasnya.
Menurut pejabat-pejabat tersebut, badan intelijen AS, Central Intelligence Agency (CIA) dan Komando Operasi Khusus Gabungan saat ini memiliki tiga warga AS yang masuk dalam daftar orang-orang yang ditargetkan untuk dibunuh atau ditangkap oleh mereka.
Dikatakan Blair, untuk menentukan apakah seorang warga AS bisa dijadikan target untuk dibunuh maka harus dipertimbangkan "apakah warga AS itu terlibat dalam kelompok yang mencoba menyerang kita, apakah warga AS itu merupakan ancaman bagi warga AS lainnya."
(ita/iy)











































