Warga Kedungombo Tolak Capres Berlatar Belakang Militer
Selasa, 27 Apr 2004 17:18 WIB
Solo - Masih ingat kepedihan nasib warga korban pembangunan waduk Kedungombo di zaman Orde Baru? Dalam pemilu presiden nanti, Paguyuban Warga Kedungombo (PWK) akan menolak dan tidak akan memilih capres yang berasal berlatar belakang atau purnawirawan militer, apalagi purnawirawan yang dicalonkan Golkar.Penegasan itu disampaikan Sekretaris PWK, Jumadi, dalam pertemuan yang digelar di rumah Wagimin, anggota PWK di Klewor, Kemusu, Boyolali, Selasa (27/4/2004), yang berada di pinggiran waduk Kedungombo. Hadir dalam pertemuan itu seluruh perwakilan PWK, meliputi 16 perwakilan yang tersebar di beberapa desa-desa sekitar Kedungombo di Kabupaten Boyolali dan Sragen."Kami merasakan sendiri pahit getirnya saat Orde Baru dan militer berkuasa. Hendak menuntut hak sendiri saja direpresi oleh militer. Mereka tegas tapi juga tegel (tega -red). Sampai sekarang nasib kami masih terkatung-katung tidak ada kejelasan seperti ini ya karena ulah mereka-mereka itu," ujar Jumadi."Apalagi capres dari militer yang diajukan Golkar, sama sekali kami akan menolaknya. Penderitaan kami ini ya karena ulah Golkar itu. Kami akan memilih presiden dari sipil yang bisa diajak membicarakan kepastian nasib kami ini," lanjutnya.Ke mana arah dukungan mereka, PWK menyebut tinggal kepada Megawati mereka punya harapan. Amien Rais mereka nilai kurang mendapat dukungan suara, apalagi selama ini tidak memperhatikan penderitaan warga Kedungombo yang telah berjuang memperoleh hak ganti rugi yang layak sejak tahun 1988 hingga sekarang.PWK mengklaim memiliki anggota 1173 KK yang tersebar di 24 dukuh seputar waduk bermasalah yang pembangunannya didanai oleh Bank Dunia tersebut. Sembilan dukuh masuk kabupaten Boyolali, sedangkan 13 dukuh masuk kabupaten Sragen. Dalam melakukan koordinasi selama ini, terdapat 16 perwakilan yang membawahi 24 dukuh tersebut.Pada Pemilu tahun 1997, warga Kedungombo memilih untuk golput karena merasa dianiaya oleh pemerintah. Pada pemilu 1999, mereka memberikan dukungan penuh kepada PDIP dengan harapan mampu memperjuangkan nasibnya. Meskipun mengaku selama ini perhatian Megawati masih dianggap kurang, namun pada pemilu 2004 lalu PDIP masih cukup memenangi TPS-TPS warga gusuran tersebut."Selama ini Mbak Mega memang masih kami rasa kurang memperhatikan kami, tapi kami masih mempunyai harapan kepadanya jika nanti kembali menjadi presiden. Sebagai orang yang sama-sama dianiaya oleh Orba kami masih berharap Mbak Mega tersentuh hatinya menyelesaikan masalah kami," papar mereka."Tiga tahun pemerintahannya memang masih terlalu kurang memikirkan kami, tetapi tidak ada harapan lain lagi bagi kami. Gus Dur sebetulnya juga punya perhatian kepada kami, tapi dengan penglihatannya yang lemah kami sangsi dia bisa lolos sebagai capres," lanjutnya.Alasan lain PWK mendukung Mega adalah terkait alasan kesejarahan. R Soekemi, ayah Soekarno, adalah keturunan Kadipaten Serang, sebuah kadipaten di masa kerajaan Mataram yang lokasinya sekarang berada di dasar waduk raksasa itu. "Kami punya ikatan persaudaraan. Kakek Mbak Mega berasal dari daerah ini. Makam leluhurnya berada di dasar waduk itu," kisah mereka.Jika nanti Megawati tidak terpilih, PWK bertekad akan melakukan tekanan-tekanan keras melalui jalur hukum kepada presiden terpilih. Namun apa yang akan mereka lakukan jika Megawati terpilih lagi, namun ternyata juga kurang memberikan perhatian kepada mereka seperti selama ini, mereka tegas menjawab, "Kami akan juga mendesak Mbak Mega. Namun setidaknya Mbak Mega pasti akan lebih bisa diajak berembug daripada militer dan Golkar."
(asy/)











































