Demikian komenter Jubir Kepresidenan Julian Aldrin Pasha menanggapi tudingan bahwa Presiden SBY berkeluh kesah. Julian dicegat wartawan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/2/2010).
"Presiden tidak mengeluh atau curhat. Ini imbauan dari Kepala Negara untuk bisa membatasi diri dalam bersikap, karena kita tahu ada hal-hal yang pantas dan tidak," ujar dia.
Di dalam aturan tata negara, seorang Presiden RI selain Kepala Pemerintahan juga Kepala Negara yang merupakan simbol negara. Maka di dalam kapasitas selaku simbol negara sudah seharusnya warga negara memperlakukan secara hormat Kepala Negara.
Terlepas dari perbedaan pandangan politik yang ada, tetap tidak pantas seorang Kepala Negara dipersonifikasikan sebagai binatang dan diteriaki sebagai maling. Apalagi tindakan tersebut sama sekali tidak ada korelasinya dengan ujuan atau substansi unjuk rasa 100 hari pertama SBY-Boediono.
"Jadi yang Presiden tekankan bukan sebagai personal, melainkan sisi simbol negara itu. Kalau kita tidak menghormati, bagaimana mengharapkan kita dihormati negara lain. Ini sangat ironis," sambung Julian.
(lh/nrl)











































