"Menurut saya kali ini Presiden beralasan. Saya juga merasa tidak pantas kepala negara digambarkan seperti kerbau, mana mukanya ditaruh di pantat kerbau lagi," ujar Buyung usai berbicara dalam talk show 'Peranan Media dalam Penegakan Hukum di Indonesia' di Kampus Atma Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Rabu (3/2/2010).
Dikatakan Buyung, aksi unjuk rasa harus ditampilkan dengan arif dan berbudaya. Jangan sampai dalam menyalurkan aspirasi itu dipakai cara-cara yang kasar, keji, tidak wajar, serta berlebihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan format demonstrasi yang sopan, lanjut dia, tidak hanya pemerintah yang akan merespons, masyarakat pun akan bersimpati.
Namun, di sisi lain, Buyung juga mengkritik ketidakberadaan Presiden SBY di Jakarta saat demo memperingati 100 hari pemerintahannya itu digelar. Seharusnya Presiden bisa menunjukkan jiwa besarnya dengan menerima tuntutan ribuan demonstran itu.
"Yang benar dari Presiden harus dibenarkan, yang salah dari Presiden harus dipersalahkan. Kalau saya begitu. Walau pun saya (dulu) Wantimpres, kalau Presiden salah saya salahkan, karena bagi saya Wantimpres itu mengawal republik ini," tandasnya.
(irw/nrl)











































