"Ketika aspirasi disampaikan dengan tidak tepat dan tidak santun, kita sebagai orang Timur terluka. Orang Timur itu mengedepankan akhlak. Negara kita negara religius, harusnya ada aturan agama yang mengatur sehari-hari," kata Marzuki di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (3/2/2010).
Dalam demokrasi, menurut dia, ada ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Ruang itu harus digunakan sebaik-baiknya agar aspirasi sampai ke pimpinan.
"Ketika kita mengekspresikan pelanggaran maka harus ada aturan agama.
Tidak perlu demonstrasi diatur dalam UU. Rakyat Indonesia juga tidak happy dengan demonstrasi. Itu hanya sekelompok masyarakat dan itu tidak menggambarkan masyarakat kita," ujar politisi Partai Demokrat ini.
Marzuki mengusulkan perlu ada reformasi bidang pendidikan di Indonesia.
"Dari sejak kecil diajari budi pekerti dengan baik. Masing-masing mempelajari agama sesuai dengan kepercayaannya," kata Marzuki.
Presiden SBY tersinggung dengan aksi pada 28 Januari 2010. Saat aksi, ada peserta yang membawa kerbau dan mengatai SBY malas, badannya seperti kerbau.
Peserta aksi juga meneriaki SBY maling dan merobek serta membakar foto SBY-Boediono. SBY mengimbau agar demonstrasi dilakukan dengan menjunjung tinggi pranata dan kepantasan.
(aan/nrl)










































