Wuss...kereta api melintas dengan cepat melewati para pengendara yang dengan 'terpaksa' menghentikan kendaraannya. Beberapa menit kemudian, pluit kembali berbunyi dan lambaian tangan berisyarat tanda jalan sudah aman sehingga dapat dilewati.
Itulah suasana di pos palang pintu kereta api Jl Pipa Gas Pertamina,Kelurahan Pondok Cina, Depok, Jawa Barat. Pos sederhana itu berukuran 1 X 1,5 M dengan beratapkan seng dan berfondasi kayu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanpa seragam dan atribut PT KAI, dengan sigap, Muhammad mengatur lalu lintas kendaraan yang melewati jalan yang hanya cukup dilalui satu mobil saja itu. Hanya bermodalkan pluit dan topi, pria berusia 55 tahun ini tak pernah lengah memperhatikan jalur kereta yang dilalui KRL Jabodetabek ini.
Sesekali matanya tertuju pada dua sisi arah jalur kereta. Sesekali pula matanya melongok keatas memperhatikan kabel-kabel listrik yang bergelayutan menyambung dari satu tiang ke tiang lain.
"Cara mengetahui kalau kereta mau lewat itu dengan melihat kabel-kabel diatas yang bergerak. Itu artinya ada kereta dari arah Depok,kalau dari Jakarta kelihatan berhenti di Stasiun Pondok Cina," kata Muhammad saat berbincang dengan detikcom, Selasa (2/2/2010) sore.
Pos tersebut berjarak 500 meter dari Stasiun Pondok Cina dan sudah berdiri sejak 1979. Pos yang hanya memilki satu palang pintu ini masih di operasikan secara manual.
Dengan menggunakan tali tambang dan roda rel, pintu palang bisa dikendalikan dari pos yang letaknya saling berseberangan tersebut.
"Alhamdulilah selama ini belum pernah terjadi kecelakaan. Itu karena selalu dijaga dengan kewaspadaan dan kesigapan,"tutur pria yang sudah berjaga sejak 24 tahun lalu ini.
Dalam penjagaannya, pos ini dibagi tiga waktu kerja (shift) dan hanya dijaga oleh satu orang setiap enam jam. Shift pertama, pukul 05.00-11.00 WIB, shift kedua pukul 11.00-17.00 WIB dan terakhir pukul 17.00-22.00 WIB.
Tak pernah berada di dalam pos dan tak pernah duduk selama bertugas, ayah 10 anak ini tidak mengeluh dalam mengemban tugas mulianya. Sambil menghisap rokok kretek dan menyeruput kopi hitamnya, matanya selalu tampak siaga. Pluit serta tangannya sigap mengatur kendaraan yang hilir mudik.
Tidak sedikit kendaraan yang lewatpun sengaja berhenti untuk memberi selembar uang kertas seribu hingga lima ribu rupiah. Jarang sekali yang memberi uang koin recehan.
"Lumayan sehari dapet Rp 30 ribu- Rp 50 ribu. Rezeki selalu ada saja," kata kakek 8 cucu ini.
Muhammad mengatakan selalu ada suka dan duka di setiap pekerjaan. Selama menjadi penjaga pos, dirinya suka kesal pada mobil atau motor yang tidak mengerti instruksinya. Dalam kondisi hujan dan petir sekalipun, dia harus tetap siaga menjaga palang pintu tersebut.
"Ada saja mobil yang mati di tengah-tengah sehingga harus di dorong.Kadang ada mobil yang susah dibilangin, jalannya lama. Kalau hujan besar dan petir kita nggak boleh pindah, pintu harus tetap dijaga, kalau nggak bisa celaka orang lain," ungkapnya.
Selamat bertugas pak !
(mpr/ndr)
