Hujan Buatan Dilarang di Cililin
Senin, 26 Apr 2004 20:35 WIB
Bandung - Dugaan hujan buatan merupakan penyebab longsor di Cililin dibantah. Namun demikian, Cililin dinyatakan bebas hujan buatan.Gubernur Jawa Barat Dani Setiawan membantah dugaan hujan buatan merupakan penyebab utama longsor di kampung Walahir, desa Kidang Pananjung, kecamatan Cililin, kabupaten Bandung pada Rabu 21 April 2004."Hujan buatan bukan penyebab bencana itu," tegas Dani di Rumah Dinas Gubernur Gedung Pakuan Bandung, Senin (26/4/2004).Untuk itu, lanjut dia, hujan buatan tetap dilangsungkan dengan menetapkan daerah selatan hingga radius 10 mil dari Bandung, termasuk Cililin, sebagai daerah bebas penaburan garam (seed resctricted area).Dituturkan Dani, di atas Bandung dan sekitarnya pada 21 April 2004 tidak terdapat aktivitas penaburan garam (NaCl). Kejadian hujan saat itu merupakan fenomena alami berupa cuaca ekstrem. Awan yang sama dengan awan yang telah menimbulkan hujan lebat serta banjir di Jakarta.Cuaca ekstrem itu, lanjut dia, disebabkan bertemunya dua masa udara yang datang dari Filipina dan Australia di atas Jawa Barat bagian Barat. Longsor di Cililin disebabkan oleh hujan alami yang lebat sebagai hasil dari cuaca ekstrem yang meluas dari Selat Sunda, Jakarta, hingga Bandung.Dani membenarkan kalau pihaknya tengah melaksanakan teknik modifikasi cuaca dengan penyemaian awan untuk membuat hujan buatan. Alasan hujan buatan tersebut, untuk mengejar target musim tanam Akhir Masa Tanam 2004 yakni 9,7 ton gabah giling.Hujan buatan tersebut dimaksudkan untuk mengembalikan elevasi muka air 3 waduk di Jawa Barat yang ketinggian airnya masih belum normal. Tiga waduk tersebut diharapkan bisa tetap mengairi lahan persawahan di sekitarnya."Hujan buatan bukan untuk membuat bencana, tapi untuk meningkatkan debit air di Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur," kata Dani yang didampingi pelaksana teknis Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) dari BPPT.Dijelaskan Dani, proyek tersebut dilakukan pada 2 April-5 Mei 2004 dalam 3 dasa hari, di mana per 10 harinya dilakukan evaluasi."Teknik modifikasi cuaca bukan untuk membuat hujan, tetapi teknologi ini ditujukan untuk meningkatkan intensitas, merangsang hujan di daerah tertentu," imbuh Kepala UPT Hujan Buatan BPPT Asep Parsidi.Dipaparkan Asep, pada 21 April 2004 penyemaian awan yang biasanya dilakukan 5 kali, hanya dilakukan 2 kali, disebabkan cuaca buruk di Lanud Husein yang membatalkan penerbangan misi penaburan garam.Penerbangan pertama untuk menaburkan bubuk garam, diberangkatkan pukul 12.44 WIB menuju daerah Lembang (Utara Bandung) dan sekitarnya, hingga ke daerah Tanjungsari (Timur Bandung), hingga ketinggian 10 ribu kaki.Sebelumnya sekitar pukul 09.00 WIB, pesawat menaburkan CaO untuk membuyarkan kabut di beberapa daerah bagian Target DAS di atas ketinggian 80 ribu kaki.Penyemaian awan selanjutnya dilaksanakan pukul 14.00 WIB di daerah Cianjur, dan menaburkan bubuk garam pada awan-awan di atasnya pada ketinggian 10 ribu kaki.Sesudahnya, pesawat kembali ke Lanud Husein dan sempat gagal mendarat akibat awan tebal dan hujan lebat di sana. Cuaca tersebut yang menyebabkan misi-misi selanjutnya dibatalkan.Dengan memaparkan hal tersebut, pihak Pemprov Jabar terkesan membantah kalau saat hari terjadinya longsor, hujan buatan dilakukan di atas Cililin.Pihak Pemprov Jabar juga membantah kalau angin pada saat tersebut menjadi penyebabnya. Sebelumnya muncul dugaan awan yang telah tersemai tersebut dibawa angin ke atas kecamatan Cililin."Pada hari itu angin bertiup dari timur menuju barat dan berbelok ke utara," kata Dani.Hal itu juga dipaparkan oleh Asep Parsidi. Selain itu, pihaknya juga sudah memperhitungkan agar hujan buatan tidak jatuh di daerah-daerah yang rawan longsor. Seperti di daerah Sumedang, Garut, Ciwidey, dan Cililin, walaupun menurutnya di daerah-daerah tersebut potensi awannya banyak.Sementara, Ahli Peneliti Utama TMC BPPT Untung Hariyanto lebih spesifik lagi menyebutkan, daerah dengan kriteria rawan banjir, rawan longsor, dan drainase jelek sebagai wilayah yang dilarang disemai awannya.Dengan mengutip data BMG, Dani kemudian menyebutkan, curah hujan saat hari H rata-rata 79 mm. "Sedangkan sebelumnya curah hujan relatif lebih tinggi, yakni mencapai 135 mm. Jadi curah hujan sebelumnya malah lebih tinggi," kata Dani."Curah hujan bukan penyebab utamanya, hujan-hujan yang sebelumnya sudah membuat kekritisan lahan maksimal. Sehingga hujan sedikit saja bisa menyebabkan sliding," tukas Dani lagi.Pihak Pemprov Jabar bersikukuh kalau penyebab terjadinya longsor di Cililin lebih banyak disebabkan faktor geologi lahan, serta pola penggunaan lahan oleh masyarakat di sekitar daerah bencana. Kemiringan lahan yang cukup tinggi, mencapai 45 derajat, jenis tanah yang gembur, dan persawahan yang ada mempercepat lahan menjadi kritis hingga terjadinya longsor tersebut.
(sss/)











































