"Tolong kami, para pembajak itu tidak memperlakukan kami dengan baik," ujar Rachel.
Rintihan memilukan itu disampaikan pada seorang dokter bedah bernama Muhammad Helmi, yang diberikan izin untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada keduanya oleh para bajak laut. Helmi ditemani seorang jurnalis AFP, yang mendatangi pasangan tersebut secara terpisah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia juga kadang merasa linglung. Terkadang suka menanyakan tentang suaminya. Di mana suami saya, di mana suami saya," ucap Helmi menirukan Rachel.
Lokasi penyekapan Rachel dan Paul sengaja dibuat terpisah. Keduanya berada di sekitar Elhur, sebuah kota kecil di Amara, Somalia. Selama pemeriksaan itu, Rachel tak pernah berhenti membicarakan suaminya.
"Saya sudah tua, umur saya sekarang 56 dan suami saya 60 tahun. Kami harus bersama karena kami sudah tidak punya waktu lagi," Helmi menirukan perkataan Rachel.
Sementara itu, Paul juga mengalami nasib serupa. Hanya saja, kondisi kejiwaan Paul lebih baik.
"Tolong selamatkan kami. Tidak ada lagi yang bisa menolong kami. Kami tak punya anak, kami sudah disekap selama 98 hari dan kondisi kami semakin memburuk," curhat Paul kepada Helmi.
Helmi selama proses pemeriksaan itu tidak diizinkan untuk memberikan pengobatan. Namun, ia tetap meninggalkan 'resep' bagi para perompak keji itu.
"Saya berikan mereka (perompak) itu saran: sandera kalian akan mati. Kalau mau kalian uang, maka perlakukan mereka dengan baik. Biarkan mereka bersatu," tegas Helmi. (mad/mpr)











































