Dari 240, Hanya 9 Siswa yang Lulus Pra-UAN
Minggu, 25 Apr 2004 16:13 WIB
Jakarta - Ini masih soal Ujian Akhir Nasional (UAN) yang hingga kini masih tetap akan dijalankan oleh Depdiknas. Redaksi masih menerima kisah-kisah dari pembaca tentang UAN.Antara lain kisah dari Lif Rahayu. Lif menyatakan, adiknya saat ini duduk di kelas 3 sebuah SMA di Yogyakarta. Diceritakannya, saat try out UAN digelar di sekolah sang adik, dari 240 siswa, yang lulus hanya 9 orang saja. Adik Lif tidak ikut lulus karena mendapat nilai Matematika 3,5.Berikut cerita Lif Rahayu pada redaksi:Saya ingin memberikan sedikit uneg-uneg tentang pelaksanaan UAN yang sangat dipaksakan. Adik saya yang paling besar, kelas 3 SMA di Yogyakarta. Setiap hari, berangkat dari rumah pukul 06.15 pagi, kemudian, pelajaran di sekolah selesai pukul 14.00. Setelah itu, kira-kira mulai pukul 16.00-18.00, adik saya belajar di sebuah bimbingan belajar yang top di Yogya.Saya memang sengaja menyiapkan pendidikan untuk dia sebaik mungkin. Kami berharap dia bisa meneruskan ke perguaruan tinggi negeri yang lebih murah daripada swasta, walaupun dengan tidak adanya subsidi dari pemerintah, biaya perguruan tinggi negeri sekarang sangat mahal.Tahun 1995, pada saat saya masuk ITB, saya hanya membayar Rp 660 ribu untuk biaya masuk, penataran P4, baju olahraga dan SSP 1 semester. Sekarang, sudah menjadi berkali-kali lipat.Adik saya mengikuti les dari pukul 16-18.00 seminggu dua kali, kemudian untuk tambahan, adik saya ikut pula les di tempat yang sama, dari mulai pukul 18.00-20.00 seminggu dua kali.Kebetulan, saya tidak tinggal di Yogya, sehingga adik saya tidak memiliki seorang pun di rumah yang bisa memberikan pelajaran dan membantunya mengerjakan PR. PR untuk anak kelas 3 SMU sekarang sangat banyak, sehingga kami memanggilkan guru privat baginya, untuk membantu pelajaran Fisika, Matematika dan Kimia.Total jenderal, adik saya dalam satu minggu penuh, selalu menekuni pelajaran dari pukul 06.15 sampai dengan jam 20.00 setiap hari. Bisa dibayangkan betapa letihnya adik saya.Kami memang menyiapkan yang terbaik baginya, karena standar UAN untuk saat ini demikian tinggi, 4.01 minimal untuk 3 pelajaran. Di samping adik saya mempersiapkan diri untuk UAN, masih pula mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi negeri.Adik saya sering bercerita betapa takutnya dia tidak lulus UAN, mengingat dia sangat rajin tetapi memang tidak memiliki kemampuan yang sangat cerdas. Pada saat dilakukan percobaan UAN di sekalohnya, dari sekitar 240 siswa, hanya 9 yang lulus. Adik saya termasuk yang tidak lulus karena nilai matematikanya 3,5.Hantu UAN terus mengiringi adik saya. Target utamanya tahun ini adalahlulus UAN dan kemudian memikirkan untuk mengikuti ujian masuk perguruantinggi negeri. Yang saya khwatirkan adalah karena kegiatan belajarnya yang sedemikian padat, dan rasa takutnya, pada saat UAN dia jatuh sakit, apakah ada kebijkan pemerintah untuk mengulang UAN bagi para siswa yang jatuh sakit pada saat UAN.SusulanAdik saya sudah sempat jatuh sakit karena usus buntu dan kami tentu sajatidak menginginkan dia kembali sakit pada saat UAN, sementara dia sudahberusaha mati-matian untuk belajar agar lulus UAN. Mohon dipertimbangkanadanya UAN susulan.Mohon pemerintah untuk lebih lagi mengkaji pelaksanaan UAN, wong banyak guru-guru yang tidak bisa mengajar dengan baik. Saya masih ingat dengan guru SD kelas 5 saya di wilayah Jakarta, saya kebetulan pernah 2 tahun menghabiskan masa SD di Jakarta. Dia menjelaskan bahwan bilangan prima itu adalah 1, 3, 5, 7 , 9 dsb.Kemudian saya bersikukuh bahwa bilangan prima itu ya 2, 3, 5, 7 , 11, 13 etc. Yang terjadi adalah Ibu guru ini justru malah menyumpahi saya agar saya menjadi bodoh selamanya. Hmmm...........padahal sampai detik ini, 9 adalah bukan bilangan prima, karena bisa dibagi menjadi 3.Ada pula guru-guru yang setiap hari hanya menyuruh muridnya mencatat dan menghafal, tanpa memberikan pengertian yang baik tentang pelajaran yang diberikan. Saya sempat diserahi tugas menjadi tukang catat di papan tulis hampir setiap hari, mencatat tulisan dari buku pelajaran punya Bu Guru sementara teman-teman saya rajin menyalin.Saya sampai sempat menangis, karena rasanya tangan saya pegal sekali, selama 2 jam terus-menerus menulis, alasan kenapa saya yang dipilih, adalah karena saya yang terpintar di kelas. Untung saja, setelah dua tahun, saya bisa pindah ke SD yang jauh lebih baik di daerah Tangerang, karena orangtua saya memutuskan pindah rumah ke Tangerang. Semoga Ibu Guru itu telah memtelah memiliki pendidikan dan attitude yang jauh lebih baik sekarang, I pray for you, Madam.Dengan adanya mutu dan tingkah laku guru yang sedemikan, di DKI Jakartalho, apalagi di daerah? Mohon pemerintah meningkatkan sumber daya merekadan juga kurikulum yang lebih reasonable, adik saya yang SMP sampai pegel membawa buku-bukunya ke sekolah, bukannya malah membuat stres adik-adik kita? Jangan-jangan masih ada guru SD yang mengira 1/2 ditambah 1/5 adalah 2/8, seperti pernah dilansir di harian Kompas sekitar tahun 1997 yang lalu. Menyedihkan sekali.Punya cerita sejenis? Kirimkan ke redaksi@staff.detik.com.
(nrl/)











































