Doa bersama ini dilakukan oleh sejumlah aktivis, mahasiswa, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan pemuka lintas agama di Sumatera Utara (Sumut). Mereka menggelar doa bersama di halaman gedung DPRD Sumut, Jl Imam Bonjol Medan, Sabtu (30/1/2010) malam sekitar pukul 21.00 WIB.
Sebelum menggelar doa bersama, puluhan aktivis ini terlebih dahulu mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan. Setelah itu mereka melakukan doa bersama dipimpin pemuka dari berbagai agama secara bergantian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemuka agama Hindu yang ikut hadir, Pandita M Chandra juga mengharapkan elit politik tidak saling menyalahkan satu sama lain agar negara tetap kondusif. "Banyak permasalahan bangsa yang belum tuntas saat ini. Kini semua elemen harus saling bantu untuk keluar dari berbagai masalah yang ada," kata Pandita Chandra.
Dalam acara doa bersama ini, para aktivis juga menggelar aksi teatrikal berjudul Belenggu Pemerintah. Teatrikal ini bercerita tentang banyaknya hak-hak rakyat yang tidak terpenuhi akibat dikebiri penguasa, terutama dalam memperjuangkan hak kepemilikan tanah.
Kordinator aksi, Sahat Tarida mengatakan, nyaris tidak ada konflik tanah di Sumatera Utara yang tuntas terselesaikan secara adil. Tiap permasalahan tanah, selalu saja rakyat yang dirugikan. Ini adalah salah satu contoh gagalnya pemerintah SBY-Boediono.
"Untuk ke depan, pemerintah diminta bijak dalam mengambil sikap, agar berbagai permasalahan rakyat dapat tuntas," kata Tarida.
Aksi doa bersama puluhan aktivis, mahasiswa dan pemuka lintas agama ini mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan. Sedikitnya 50 personel polisi disiagakan untuk menjaga situasi tetap kondusif di lingkungan DPRD Sumut saat aksi berlangsung.
(rul/mok)











































