Hadapi UAN, Sekolah Swasta Semarang Khawatir Kian Terpuruk
Sabtu, 24 Apr 2004 23:45 WIB
Semarang - Persoalan UAN (Ujian Akhir Nasional) yang bagi sebagian orang terkesan sederhana justru menjadi momok bagi sekolah swasta. Mereka khawatir kredibilitasnya akan terpuruk kalau sampai anak asuhnya tak mampu memenuhi standar baru UAN.Seperti diungkapkan Koordinator Sub Rayon IV SMP Semarang Drs Nurhamid H.P, MSi ketika ditemui detikcom di kantornya, Jl. Panjaitan Semarang, Sabtu (24/04/2004). Sebagian besar sekolah mengeluhkan kebijakan pemerintah soal standarisasi UAN."Di Sub Rayon IV, banyak sekolah yang menyatakan ada kendala dalam menjalankan ketentuan dalam Keputusan Mendiknas tersebut. Terutama bagi sekolah swasta. Mereka paling khawatir kalau UAN menjadi bumerang bagi mereka," tuturnya.Dikatakan Nurhamid, dirinya sering berkoordinasi dengan seluruh sekolah di sub rayon-nya. Rata-rata problem yang muncul adalah ketentuan UAN yang belum masih perlu dipertanyakan relalisasinya. "Dulu, ketentuannya agak mudah, dengan standar 3,01, siswa yang tidak lolos bisa ikut ujian ulang. Sekarang ketentuannya malah jungkir balik, standar minimalnya 4,01 dan yang tidak lolos tidak bisa mengulang lagi. Ini yang jadi masalah," papar Nurhamid yang juga Kepala Sekolah SMP 3 Semarang ini.Hal yang sama juga diungkapkan Kepala Sekolah SMP Diponegoro Semarang Drs Traju Ismono. Menurutnya, siswa-siswi sekolah swasta sangat bervariasi. Ada yang mutunya memang bagus, ada yang mutunya cukupan, tapi ada pula yang agak buruk. "Yang bahaya ya yang mutunya cukupan dan agak buruk itu. Mereka bisa hancur, kalau sampai siswa-siswinya tak lulus UAN. Tahun depan, tak ada lagi orang-orang yang percaya pada sekolah macam itu," kata dia di kantornya, Jl. Pandanaran II Semarang.Untuk itulah, kata dia, UAN dengan ketentuan baru merupakan cobaan yang berat bagi sekolah swasta. Sehingga mereka harus pontang-panting memoles peserta didik yang kemampuannya kurang memadai."Saya sendiri menganggap ketentuan tersebut sebagai resiko. Ya, tinggal melaksanakan saja. Persoalan banyak atau sedikit yang tidak lulus itu jadi resiko pengurus sekolah kayak kami ini. Yang jelas sudah ada usaha," ujarnya.Tahun lalu, kata dia, siswa SMP Diponegoro lulus semua. Tapi, dirinya tidak tahu untuk tahun ini. "Soalnya dari 45 orang siswa kelas III, kemampuannya bervariasi dan cenderung mengkhawatirkan. Semoga saja mereka bisa lolos UAN biar tidak memalukan nama (sekolah) Diponegoro," harapnya.
(jon/)











































