Hujan Buatan Tambah Curah Hujan Maksimal 15 Persen

Hujan Buatan Tambah Curah Hujan Maksimal 15 Persen

- detikNews
Sabtu, 24 Apr 2004 15:48 WIB
Bandung - Pelaksanaan hujan buatan, hanya akan menambah curah hujan maksimal sebanyak 15 persen dari kondisi normalnya. Tambahan curah hujan sebanyak ini tidak terlalu signifikan untuk membebani permukaan tanah.Pandangan ini dikemukakan Dr Bayong Tjasyono. Ahli meteorologi dan cuaca dari jurusan Geofisika dan Meteorologi ITB menjawab pertanyaan detikcom soal kemungkinan pelaksanaan hujan buatan yang berpotensi menambah tingginya curah hujan dan mengakibatkan terjadinya longsoran. Dr Bayong dihubungi di Bandung, Sabtu (24/4/2004).Kondisi cuaca saat ini menurut Dr Bayong, memang sedang dalam masa transisi dari musim penghujan ke musim kemarau. Musim hujan sendiri telah jatuh pada bulan Desember, Januari dan Februari. "Bulan Maret, April dan Mei ini menjadi masa transisi. Dalam kondisi itu, hujan memang masih terjadi karena kelembaban udara yang masih cukup memadai untuk turun sebagai hujan," tuturnya.Namun hujan pada masa transisi itu, tentunya tidak sama dengan masa musim penghujan. "Kalau musim penghujan, maka daerah konvergensinya lebih luas. Sedangkan dalam masa transisi, hujannya lebih bersifat lokal atau setempat," paparnya lagi.Namun hujan lokal tidak berarti hujan tidak bisa lebat. Hujan pada masa transisi bisa bersifat shower, bahkan juga bisa terjadi hujan es, petir, kilat dan sebagainya. Apalagi kalau terjadi awan cumulonimbus yang besar dan membawa air. "Hujan sekarang ini terjadi karena kita ada di daerah monsun," katanya.Perkara pembuatan hujan buatan pada masa transisi semacam ini, menurut Bayong memang demikianlah adanya. Pelaksanaan hujan buatan pada saat musim kemarau dan tidak ada awan, menurutnya agak mustahil dilakukan.Perkara banjir dan longsor yang terjadi, Dr Bayong berpendapat bahwa hal itu lebih sebagai akibat rusaknya alam maupun buruknya infrastruktur yang ada. "Contohnya saat di Jakarta. Hujan sebentar saja di musim transisi semacam ini, bisa membuat banjir di jalanan. Ini akibat buruknya gorong-gorong jalan," tegasnya.Sama halnya dengan kejadian tanah longsor, biasanya relatif terjadi pada daerah yang permukaannya terbuka dan pori-pori tanahnya tidak bisa dengan cepat meresapkan air. "Di daerah semacam ini, maka run off atau limpasan air kerap terjadi. Air bisa berubah menjadi pekat, akibatnya viskositas air pun bertambah," katanya.Di daerah yang tidak ada pelindung pohon atau hutan, maka air hujan yang jatuh pun akan mempunyai energi kinetik yang lebih besar. "Beda halnya kalau sebelum terkena ke permukaan tanah, sudah ditahan oleh dedaunan atau pohon. Apalagi yang mempunyai akar yang kuat ke dalam. Energi kinetik air hujan yang tertahan ini juga akan lebih rendah," katanya. (djo/)


Berita Terkait