Hal ini terkait dengan persoalan-persoalan kekinian yang dinilai tidak efektif, yang hampir sama dengan kejadian pada tahun 1950 hingga 1957 saat diperlakukan demokrasi terpimpin.
Hal ini dikatakan oleh Ketua I Bidang Organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kamrussamad, saat memberi keterangan kepada wartawan usai bertemu dengan Wapres Boediono di kantor wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (29/1/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kamrus mengungkapkan, Boediono khawatir dengan demokrasi di Indonesia yang mulai mengarah pada kegagalan demokrasi yang kedua. Kata Boediono, demokrasi pada tahun 1950 hingga 1957 sangat liberal, dimana kebijakan ekonomi tidak efektif dan mengarah pada delegitimasi pemerintahan. Keadaan saat ini pun dinilainya banyak kebijakan yang tidak efektif, dan muncul adanya upaya delegitimiasi.
"Pak Wapres memberi respon terhadap perekmbangan demokrasi sekarang ini. Menurut Wapres demokrasi kita akan mengalami kegagalan kedua. Kegagalan pertama terjadi pada tahun 1950-1957 saat diperlakukan demokrasi terpimpin," ucap Kamrussamad.
Kendati demikian, Boediono tidak mengungkapkan lebih rinci kasus yang menjadi indikasi munculnya kekhawatiran akan adanya kegagalan demokrasi yang kedua.
(gun/nwk)










































