Menurut ulasan khusus dari Boatpoint.com.au, Jumat (29/1/2010), Lagoon 500 tampil dengan interior yang lebih baik dari generasi pendahulunya. Kayu oak tampil menggantikan kayu cherry. Mulai dari panel-panel sampai lantai, semua berlapis kayu oak.
Interior kapal pun lega. Di bawah ruang kemudi ada dua kabin VIP dan satu kabin tambahan. Setiap kabin punya lemari besar dan punya kamar mandi shower. Di sisi tempat tidur di kabin itu ada jendela, sehingga penumpang bisa tidur sambil menikmati pemandangan lautan. Indah nian. Sebagian versi Lagoon 500 juga didesain dengan 4 kabin.
Lagoon 500 versi standar memiliki 9 aki, dua motor, kipas kabin, MP3 player dan Radio dengan CD. Lagoon 500 juga punya speaker di ruang kokpit yang anti air. Bayangkan nikmatnya melaut sambil mendengarkan MP3 keras-keras.
Untuk versi yang lebih tinggi atau spesifikasi khusus untuk berlayar, ada tambahan fasilitas. Ada motor khusus untuk memasang dan menggulung layar.
Versi yang paling mewah memiliki semua fasilitas standar dan layar. Kemewahan itu masih ditambah lagi kayu jati untuk ruang kemudi, lampu tembak di atas ruang kemudi, tambahan pijakan panjang (flybridge) di ujung geladak dan pompa sedot air untuk geladak.
Nah, itu baru untuk kebutuhan berlayar. Untuk akomodasi masih ada lagi fasilitas yang ciamik. Lagoon 500 punya ruang makan untuk 6 orang, dapur dengan panggangan, oven, microwave, kulkas dan freezer dan tentu saja lemari untuk menyimpan makanan. Mesin cuci bisa ditambah kalau ada permintaan.
Jika pemilik Lagoon 500 bosan makan di dalam kapal, ada ruang terbuka di belakang kapal yang bisa dijadikan tempat makan. Ruang ini sudah beratapkan fiberglass dan dua tiang baja. Sambil menikmati hidangan, kita bisa melihat bebas pemandangan lautan di belakang kapal.
Lagoon 500 dipuji sebagai salah satu yang terbaik dari kapal layar mewah. Saking nyamannya, kapal Lagoon 500 mendapatkan penilaian ibarat sebuah rumah yang nyaman di atas lautan.
Oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, Lagoon 500 diklaim digunakan untuk memantau terumbu karang. Pemerintah Indonesia membelinya dengan harga sekitar Rp 14 miliar. Namun, pembelian kapal mewah ini menuai kontroversi, karena kapal itu dinilai terlalu mewah untuk digunakan hanya memantau terumbu karang. Kapal ini lebih cocok sebagai kapal pesiar.
(fay/asy)











































