Longsor Cililin Bukan Disebabkan Hujan Buatan

Longsor Cililin Bukan Disebabkan Hujan Buatan

- detikNews
Jumat, 23 Apr 2004 20:09 WIB
Bandung - Muncul tudingan terhadap Proyek Hujan Buatan Pemerintah Provinsi Jabar yang dimaksudkan untuk mengairi waduk-waduk di Jawa Barat. Sebabnya curah hujan yang tinggi yang terjadi sebagai faktor yang memicu terjadinya longsor. Direktur DVMBG (Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) Surono mempertanyakan proyek hujan buatan di tengah masih berlangsungnya musim hujan. "Coba tanya ke Pemprov Jabar tentang hal itu," katanya, Jumat (23/4/2004) ketika ditemui wartawan di kantornya. Menjawab hal itu, Wagub Jabar Nu'man A Hakim yang ditemui di Gedung Sate Jl. Diponegor, mengaku tidak tahu menahu tentang hal itu. Kendati demikian, dirinya membenarkan adanya proyek tersebut. "Coba tanya ke Bina Produksi," katanya. Kabiro Bina Produksi Pemprov Jabar Darso Suhanda, yang menangani langsung proyek tersebut membenarkan adanya Proyek Hujan Buatan sepanjang Bulan April 2004 ketika ditemui kemudian Jumat di Gedung Sate. Namun, dirinya membantah bahwa bukan hujan buatan yang menyebabkan tingginya curah hujan di Rabu (21/4/2004) yang menjadi hari naas warga Kampung RT 03/03 Kampung Walihir, Desa Kidang Pananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung. "Tidak mungkin kalau disebabkan hujan buatan sebab kami menembaknya untuk tanggal 21-22 April 2004 di atas Kabupaten Cianjur," kata Darso. Dirinya menambahkan terjadinya hujan buatan biasanya hanya jatuh di lokasi yang awannya ditembakkan garam saja. Dirinya juga menekankan bahwa hujan buatan tidak mungkin terjadi siang hari sebab pelaksanaannya dilakukan malam hari. Juga dirinya menegaskan bahwa hujan buatan tidak mungkin terjadi sepanjang hari hingga malam. Untuk diketahui hujan deras pada Rabu (21/4/2004) yang terjadi di lokasi longsor Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung, hampir seharian sejak pukul 14.00-21.00 WIB. Data yang diterima pihaknya dari BMG menyebutkan hari naas tersebut curah hujan mencapai lebih dari 58 mm. Sebelumnya curah hujan tidak pernah sebesar itu. Hujan buatan yang dilakukan pihaknya, ditujukan untuk di daerah-daerah sekitar DAS Citarum dan Hulu Sungai Cimanuk. Hujan tersebut dimaksudkan untuk menambah elevasi muka air waduk-waduk di sepanjang DAS Citarum dan Hulu Sungai Cimanuk. Misal untuk Waduk Saguling yang sekarang membutuhkan 1,3 milyar kubik air agar elevasi muka airnya kembali normal. Menurutnya, rencana hujan buatan tadinya akan dilakukan di Bulan Mei 2004. "Setelah konsultasi dengan pihak BMG Bogor dan BMG Stasiun Bandung. Bulan tersebut tidak ada awan," katanya. Akhirnya dijatuhkan keputusan untuk melakukan hujan buatan sepanjang April 2004. Dirinya menuturkan, hujan buatan dimulai sejak 2 April 2004 dan sempat dihentikan pada 5 April 2004 sebab khawatir ganggu pelaksanaan pencoblosan Pemilu 2004. Rencananya dilakuan selama per 10 hari dengan jeda waktu yang sama untuk evaluasi. Pekerjaan teknisnya diserahkan pada Dinas PSDA yang bekerja sama dengan BPPT. Sementara pihak Depkimpraswil yang menjadi tim evaluasi. Dananya sendiri menyedot Rp 3,8 milyar yang separuhnya ditanggun APBN dan setengahnya dari APBD Jabar. "Kami sengaja mengkonsentrasikannya di Cianjur dan sesekali di Gunung Wayang dan Gunung Windu (hulu Citarum) sebab daerah tersebut gundul. Kami khawatir terjadi longsor malah," katanya. Dirinya juga menegaskan bahwa proyek hujan buatan tersebut berisi butir-butir perjanjian yang ketat. Disebutkan, jika dalam 10 hari tersebut tidak ada awan maka hujan buatan dihentikan tetapi hujan buatan diteruskan jika memang ada awannya. Kemudian, dalam evaluasi dilihat apakah terjadi banjir atau tidak. Jika terjadi hujan buatan harus dihentikan. "Lainnya, kalau terjadi curah hujan tinggi maka hujan buatan harus dihentikan," tegasnya.Kendati, sudah satu minggu hujan masih terus turun deras, Darso mengatakan proyek hujan buatan tetap jalan terus. (zal/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads