"Dulu ketika SBY memilih Boediono sebagai wapres saya optimis negara ini bisa take off sebagai negara yang baik. Tapi saya tidak percaya lagi pada dia ketika dia memilih menteri-menterinya," ujar politisi Golongan Karya (Golkar) Jefri Geovani.
Hal itu disampaikan Jefri saat jumpa pers evaluasi 100 hari kinerja Pemerintahan SBY-Boediono oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) di Kantor LSI, Jl Terusan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (27/1/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"SBY betul-betul nggak punya pilihan tapi menurut saja apa yang disodorkan partai-partai," jelasnya.
Jefri pun mengambil contoh Menteri Hukum dan HAM yang menanggapi permasalahan gambar Burung Garuda di kaos Giorgio Armani.
"Menteri Hukum bilang Garuda di kaos Armani itu melanggar hak paten. Itu kan salah, hak paten itu untuk ciptaan yang berkaitan dengan teknologi. Hak cipta lebih tepat walaupun itu nggak benar juga," kritik Jefri.
Sementara anggota Fraksi Partai Demokrat (FPD) Hayono Isman mengatakan, dalam politik pembantu presiden yang berkarakter baik saja tidak cukup. Hayono mencontohkan Boediono yang berkarakter dan berintegritas tinggi.
"Pak Boed itu tidak berpotensi menjadi koruptor. Saya bisa jamin. Beliau tidak punya bakat jadi koruptor, tidak punya ambisi," jelas Hayono.
Karena itu, SBY memilih Boediono yang tidak punya ambisi, bukan mengajukan diri sebagai wapres. Padahal banyak saat itu menawarkan diri menjadi wapres.
Namun Hayono menyesalkan akhir-akhir ini Boediono menjadi 'sasaran tembak' kasus Bank Century. "Karakter Pak Boed orang baik. Pak Boediono korban daripada pembunuhan karakter," jelas Hayono.
(nwk/mad)











































