Membengkaknya biaya untuk membebaskan Bali dari wabah rabies dikritisi pada pertemuan sejumlah ahli rabies yang digelar oleh Ikatan Alumni Universitas Udayana (Ikayana), di Universitas Udayana, Jl Sudirman, Denpasar, Rabu (27/1/TMRM). Ahli rabies berasal dari Indonesia, China, Australia, dan Amerika Serikat.
Para ahli mengkritik biaya membasmi rabies di Bali yang kian membengkak tidak sesuai dengan hasil di lapangan. Bahkan, serangan rabies di Bali kian mengganas.
Rabies di Bali merebak sejak akhir 2008. Biaya yang telah dihabiskan sebanyak Rp 22,2 miliar jauh dari anggaran awal sebesar Rp 10 miliar. Dana ini dikeluarkan oleh Pemeritah Provinsi, Kabupaten/Kota di Bali, Pemerintah Pusat, serta bantuan dari Australia Center for International Agricultural Research (ACIAR) dan organisasi kesehatan PBB (WHO).
Peneliti dari ACIAR Helen Scott-Orr mengatakan penanganan rabies membutuhkan biaya sangat besar. Di negara lain, ada yang sukses namun ada juga negara yang masih terus berusaha menanggulanginya.
"Namun di Bali, biaya yang dikeluarkan terus bertambah, sedangkan rabies terus menyebar ke daerah-daerah (kabupaten) yang sebelumnya masih bebas rabies," kata Helen.
Jumlah gigitan anjing pada manusia hingga akhir tahun 2009 mencapai 16.680 kasus. Sebanyak 30 korban meninggal dunia. Populasi anjing di Bali mencapai 420.000 ekor.
Para ahli mengkritisi tiga hal yang mempengaruhi belum berhasilnya pembasmian rabies di Bali. Tiga hal tersebut, yaitu cakupan vaksinasi dibandingkan populasi anjing, efektifitas vaksin dengan daya tahan pendek, serta program eliminasi anjing.
(gds/djo)










































