Longsor di Cililin-Bandung Akibat Hujan Buatan?
Jumat, 23 Apr 2004 09:31 WIB
Bandung - Bencana longsor di Kampung Walahir Desa Kidang Pananjung, Cililin Kabupaten Bandung yang menewaskan 15 orang itu jelas disebabkan curah hujan yang tinggi. Akibat kondisi tanah yang labil dan alam yang rusak, menyebabkan longsoran besar. Proyek hujan buatan yang sedang dilaksanakan untuk menambah debit waduk Citarum di dekat Cililin berpotensi menambah tingginya curah hujan yang di luar kontrol.Pandangan itu dikemukakan Dr Surono, Kasubdit Mitigasi Bencana Geologi Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) kepada detikcom di Bandung, Jumat (23/4/2004).Surono memang tidak secara langsung mengatakan proyek hujan buatan yang sudah berlangsung selama satu bulan terakhir ini di atas waduk Saguling sebagai biang keladi terjadinya longsor. Surono pun dengan tegas menyatakan bahwa kondisi alam di Gunung Gedugan yang longsor itu memang sudah rusak parah akibat penggundulan hutan. Selain itu, karakteristik tanahnya pun sebetulnya cukup labil sebagai daerah hunian. "Daerah situ memang aliran air. Longsoran yang terjadi, memang disertai aliran air yang cukup deras," tuturnya.Perkara curah hujan yang tinggi tak terkendali itu bisa terjadi, karena dari data yang diperolehnya dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), sebetulnya pada bulan April 2004 ini daerah Jawa Barat belumlah memasuki musim kemarau. "Jadi, di sini ini memang masih musim hujan dan secara teknis saya kira belumlah terlalu perlu dilakukan hujan buatan," paparnya. Namun Surono tidak merinci data yang diterimanya dari BMG itu.Namun proyek itu ternyata tetap dilakukan oleh UPT Hujan Buatan BPPT. Karena itu, Surono menyarankan agar dilakukan penelitian yang lebih detil lagi berkaitan dengan curah hujan yang terjadi sebelum dan setelah dilakukannya hujan buatan itu. "Saya kira perlu dilakukan perhitungan dan perbandingan untuk melihat, apakah curah hujan yang kemudian turun itu memang kemudian di luar normal," katanya.Hal ini menurutnya penting dilakukan, mengingat proyek hujan buatan itu memang sering dan cenderung rutin dilakukan saat musim kemarau guna menjaga debit dan tinggi permukaan waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur tetap terjaga. "Saya kira, penting dan perlu diketahui kapan waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Seperti diketahui, kondisi lingkungan di Jabar ini memang sudah rusak parah. Jangan sampai upaya-upaya modifikasi cuaca nantinya justru berpotensi menambah bahaya dan bencana," katanya.
(nrl/)











































