"Masing-masing komunitas agama di Indonesia dan AS bisa mendorong good governance. Khususnya komitmen pemerintah untuk inklusif dan melindungi kaum minoritas," ujar delegasi RI Zainal Abidin Bagir usai penutupan Indonesia-US Interfaith Cooperation Forum di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (26/1/2010).
Zainal mengatakan tidak lanjut dari pertemuan ini adalah merekatkan kembali hubungan RI-AS di bidang sosial budaya dan agama. "Masing-masing lembaga memiliki jaringan yang kuat untuk menjalin hubungan antara kedua negara. Kita bisa belajar disana, sebaliknya, mereka juga bisa belajar dengan kita disini," jelasnya.
Menurut Zainal, salah satu contoh dalam bidang pendidikan adalah mengenal karakter negara lain. "Orang Indonesia tidak tahu banyak tentang orang Amerika. Orang Amerika tidak tahu banyak tentang kita. Kalau orang tidak tahu, biasanya yang muncul adalah stereotyping," kata Zainal.
Dalam pertemuan selama tiga hari dari 25-27 Januari 2010, kedua pihak bersepakat mengatasi masalah khas umat beragama antara lain kemiskinan, perubahan iklim, pendidikan dan pemerintahan yang bersih. Para pemuka lintas agama ini juga sepakat agar pemerintah kedua negara juga dilibatkan.
Konferensi tingkat dunia ini adalah awal dari serangkaian forum serupa yang akan digelar tahun ini. Sejumlah pemimpin agama Indonesia, AS dan beberapa negara Asia ikut dalam konferensi ini. Sejumlah LSM juga berpartisipasi.
(mpr/fay)











































