Mimpi Hajatan Massal, Bencana Longsor yang Datang

Mimpi Hajatan Massal, Bencana Longsor yang Datang

- detikNews
Kamis, 22 Apr 2004 21:38 WIB
Bandung - Bermimpi kampungnya menggelar hajatan massal, ternyata berbuah bencana. Firasat itu semula tak difikirkan Ny Yati (21), warga Kampung Walahir, Desa Kidang Pananjung, Cililin, Kabupaten Bandung itu. Namun tatkala bencana besar sudah melanda, mau tak mau mimpinya itu terus terbawa. Semula memang tak ada firasat apa pun yang melintas di benaknya. Sebanyak 187 jiwa yang berdiam di lereng bukit Kidang Pananjung Cililin itu memang hidup tenteram. Yang sempat terlintas sebelumnya justru kekhawatiran sejumlah warga menjelang maghrib pada hari Rabu (21/4/2004). Pasalnya, beberapa warga yang baru pulang dari berladang di lereng bukit itu menemukan adanya rekahan-rekahan tanah. Saat itu suasana hujan rintik-rintik.Beberapa warga kampung Walahir itu kemudian sempat mendiskusikan adanya rekahan tanah itu yang di desa mereka juga disebut sebagai Gunung Gedugan. Namun pembicaraan mereka terhenti karena kegelapan malam sudah tiba. Warga pun kembali ke rumah masing-masing, seraya berjanji untuk melihat lebih lanjut adanya rekahan di lereng bukit itu. Hujan yang turun pun semakin menderas. Sederas hujan yang turun sehari sebelumnya.Tak disangka, tak dinyana. Sekitar pukul 22.00 WIB, di tengah derasnya suara hujan, terdengar pula suara gemuruh. Sebelum suara gemuruh itu, Ny Yati mengaku mendengar suara gelegar petir. "Mungkin ada tiga atau empat kali suara petir itu. Pekak telinga saya mendengarnya. Kemudian terasa bumi bergoncang keras. Saya langsung lari ke luar rumah, dan saya lihat sawah dan rumah yang ada di depan saya sudah hilang tertimbun tanah," tuturnya sambil bergidik.Ny Yati dan keluarganya sendiri termasuk yang beruntung. Kendati rumah kediaman mereka sempat miring, namun petaka dahsyat itu tidak merenggut jiwa keluarganya. Namun tetangganya, tujuh orang dari satu keluarga yang mendiami dua rumah, yaitu Mahria (50 tahun), Endah (47), menantunya, Mamat (22), Otib (35), One (70) dan cucu-cucunya Dadang (15), dan Eneng (8) tewas seketika akibat tertimbun longsoran. Satu kelurga lagi yang juga menjadi korban Erus (17), Masiji (65), Agus (31), Dede (20), dan Handri (70) juga ditemukan tewas. Saudara mereka juga masih dicari yaitu Adjang (70), Asep (40), dan Ence (45). Kondisi jenasah pada saat ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan. Beberapa luka diderita korban akibat benturan benda-benda keras.Sementara warga lain yang selamat, Ny Edoh (50) bertutur bahwa kejadian yang dialaminya itu begitu mengerikan. "Ada bagian rumah saya yang terserempet alur tanah. Tapi yang paling membuat saya gemetaran, tanahnya berhenti di depan rumah. Alhamdulillah, kami masih diberi keselamatan," katanya.Setelah itu, dia dan warga lain yang selamat segera berlarian menuju ke rumah Ketua RW, Adis sekitar 50 meter dari alur longsoran. "Kebanyakan warga larinya ke rumah Pak Adis, Tapi ada juga yasng berhamburan lari menuju sawah, hutan atau ke tempat lain. Pokoknya, pada cari selamat dulu, terserah mau ke mana," papar Edoh lagi. (gtp/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads