Aksi massa petani ini dilakukan untuk menolak pelaksanaan perdagangan
bebas antara negara-negara ASEAN dengan China. Aksi ini akan dilakukan
Persatuan Perjuangan Petani Indonesia, yaitu gabungan LSM seperti Dewan
Tani Indonesia, Serikat Petani Pasundan, Aliansi Gerakan Reforma Agraria
dan Pemuda Tani HKTI.
"Gerakan petani dan buruh ini akan nyatakan sikap penolakan perdagangan bebas dengan China dan minta ini ditunda. Karena nyata kebijakan ini untungkan China," kata Ketua Umum Dewan Tani Indonesia, Ferry Juliantono, dalam jumpa pers di RM Suharti Jalan Tendean, Jakarta Selatan, Selasa (26/1/2010).
Oleh karena itu, lanjut Ferry, gerakan petani dan buruh yang berjumlah 30 ribu orang akan mendesak DPR dan Presiden agar membatalkan kebijakan perdagangan bebas atau penyelesaian kasus Bank Century. Tanpa perdagangan bebas sebenarnya berbagai produk China sudah merajalela di pasar Indonesia.
Kekhawatiran petani, lanjut Ferry, yaitu masuknya bibit impor, alat pertanian, produk pertanian yang akan menghancurkan kondisi pertanian di Indonesia. "Belum lagi ulah pedagang produk pertanian dalam negeri, khususnya beras, yang mengeruk keuntungan besar. Sementara petani hanya gigit jari," jelasnya.
Oleh karena itu, Ferry menjelaskann, Persatuan Perjuangan Petani Indonesia menolak pelaksanaan perdagangan bebas ASEAN-China pada 1 Januari
2010. Mereka juga akan menuntuk pembersihan pemerintah dari menteri-menteri yang mendukung neoliberalisme.
"Dengan moment evaluasi 100 hari kerja SBY-Boediono ini, kami menuntut DPR dan pemerintah melaksanakan reforma agraria sebagai landasan memajukan pertanian di Indonesia," pungkasnya.
(zal/anw)











































