2 Capres Jenderal, Posisi Tawar Menawar Militer Menguat
Kamis, 22 Apr 2004 15:15 WIB
Denpasar - SBY dan Wiranto sama-sama jenderal purnawirawan dan jadi capres. Dikhawatirkan, posisi tawar menawar militer akan menguat lagi."Jelas ada kekhawatiran itu. Tapi saya optimis kita tidak akan kembali ke struktur politik otoriter seperti Orde Baru. Karena masyarakat sipil kita sekarang ini jauh lebih cerdas, dan pressure dari parpol lain cukup kuat."Demikian kata Koordinator Solidaritas Masyarakat Tanpa Batas Bonar Tigor Naipospos usai acara diskusi di Kampus Universitas Udayana jalan Jenderal Sudirman Denpasar, Kamis (22/4/2004).Dia pun membandingkan figur SBY sang capres Partai Demokrat dan Wiranto sang capres Partai Golkar. "Jika SBY menjadi presiden, ancaman bagi demokrasi lebih rendah dibandingkan jika Wiranto jadi presiden," ujarnya.Ancaman yang dimaksud Naipospos, seperti penetapan militeristik yang digunakan dalam penyelesaian konflik sosial. Ancaman lainnya berupa supremasi sipil atas militer yang menjadi tiang demokrasi tidak akan pernah terwujud."Namun jika SBY yang jadi presiden, karena memiliki latar belakang militer dan gerbong militer yang dia bawa, memang ada kekhwatiran posisi tawar menawar tentara akan kuat lagi. Tapi ya itu tadi, saya optimis itu tidak akan terjadi," katanya.Menurut dia, SBY cukup akomodatif dalam persoalan Aceh. Sebagai sosok militer, SBY mendukung penyelesaian konflik Aceh melalui perundingan."Dalam konteks politik, SBY lebih prospektif ketimbang Wiranto," demikian prediksi pria yang juga menjabat Koordinator Sahabat Aceh ini, dan beken dikenal sebagai Ketua Solidaritas untuk Timor Timur (Solidamor).
(sss/)











































