"Tentu saja kita ingin NU dipimpin orang dengan standar keulamaan. Kalau tidak, nanti tidak ada bedanya dengan organisasi lain," ujar Ketua Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Syaifullah Yusuf.
Hal itu disampaikan Gus Ipul, panggilan akrab Syaifullah Yusuf, usai peresmian pembukaan Konferensi XIV PP GP Anshor di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (25/1/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan sampai pemimpin NU ke utara umatnya ke selatan. Belakangan ini apa yang diinginkan pemimpinnya tidak sama dengan warganya di tingkat bawah, itu kan Joko Sembung, nggak nyambung," candanya.
Calon pemimpin NU, juga harus tidak terlibat dukung-mendukung dalam hal politik. Karena NU harus lebih menjaga akidah umatnya daripada sibuk menunjukkan dukungan politik.
"Urusan dukung mendukung itu urusannya partai politik. NU menjaga akidah umatnya saja," tegasnya.
Gus Ipul pun mengharapkan sosok sekualitas almarhum Gus Dur untuk menjadi pemimpin NU.
"Pekerjaan rumah mencari orang yang seperti Gus Dur. Dari segi nasab cucu pendiri NU, ulama yang mengaji kitab kuning. Dia belajar ilmu lain ke Eropa dan ke mana-mana tapi basic-nya nggak berubah," jelasnya.
Untuk jabatan Rois Aam NU, Gus Ipul menjagokan nama Tholhah Hasan dan Mustofa Bisri. "Kiai Tholhah patut jadi pertimbangan. Beliau tidak punya tim sukses dan mengejar jabatan. Mustofa Bisri juga bisa jadi alternatif yang lain," ucap Gus Ipul.
Sedangkan untuk jabatan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, Gus Ipul memberikan indikasi dukungan kepada Said Agil Siradj sebagai pengganti Hasyim Muzadi.
Sementara menanggapi pencalonan Ulil Abshar Abdalla sebagai Ketua Umum Tanfidziyah dari kalangan muda, Gus Ipul mengapresiasinya sebagai pemikir namun belum sesuai dengan akar NU.
"Menurut pandangan saya figurnya Pak Ulil belum kompatibel dengan pemilih," tanda mantan menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT).
(nwk/irw)











































