Di RS Adikku Mengigau:UAN,UAN

Kisah Pilu Tentang UAN

Di RS Adikku Mengigau:UAN,UAN

- detikNews
Kamis, 22 Apr 2004 09:45 WIB
Jakarta - Ujian Akhir Nasional (UAN) memang "makhluk" baru. Wajar jika yang tidak berkepentingan, acuh tak acuh saja. Tapi bagi siswa kelas 3 SMP/SMU, UAN adalah penyebab stres utama saat ini.Saking stresnya, bahkan saat menderita sakit pun hantu UAN datang menghampiri. Di tengah sakit jasmani yang mendera, justru igauan yang keluar adalah "UAN..UAN..UAN..."Penggambaran di atas bukan karangan belaka. Kisah itu diceritakan oleh Bastomi, warga Kec.Tenjo, Kab.Bogor-Jabar. Bastomi adalah kakak sekaligus wali murid dari adiknya yang sekarang duduk di kelas 3 salah satu SMKN di daerah Banten.Sang adik sempat dirawat di Klinik Aroba di daerah Cikupa, Rumah Sakit Chu Chi Paramita, discanning di Rumah Sakit Honoris dan terakhir karena keterbatasan biaya, dirawat di RSUD Tangerang.Ingin tahu cerita sedihnya soal UAN? Berikut kisahnya seperti disampaikan pada detikcom, Kamis (22/4/2004):Saya punya cerita pilu menyangkut Ujian Akhir Nasional (UAN), yang menyebabkan adik saya harus tergeletak di Rumah Sakit dalam waktu yang cukup lama. Alhamdulillah, Tuhan masih memberinya kesempatan.Kejadian ini saya alami sekitar pertengahan Januari 2004, adik saya mengalami infeksi selaput otak, saya lupa istilah medisnya. Omongannya ngaco alias ngigau enggak karuan. Tangan, kaki, rahang dan sebagian organ lainnya nyaris lumpuh, tidak bisa menerima perintah dari otak (kata dokter).Dalam igauannya dia sering menyebut-nyebut UAN dan balas budi. Karena orang tua (ayah) kami memang sudah tidak ada, jadi saya (kakaknya) yang harus menanggung semua biaya sekolahnya. Dari celotehnya saya menangkap bahwa dia ingin sekali cepat lulus karena merasa kasihan kepada saya yang harus membiayainya. Selain biaya sekolah, juga biaya hidup -- biaya kostan dan biaya sehari-hari -- yang justru lebih besar dari biaya sekolahnya sendiri.Tapi dia merasa tidak yakin bisa lulus karena standar nilai yang harus dicapai lebih besar dari tahun sebelumnya. Dan dia melihat betapa banyak kakak kelas tahun sebelumnya yang dia anggap lebih pintar dari dia. "Untuk mencapai batas nilai yang lebih kecil saja banyak yang tidak lulus, apalagi saya? Harus mencapai 4,01 pula. Bagaimana kalau tidak lulus? Harus ngulang? Bayar kost lagi? dst". Begitu kira-kira pikiran yang selalu membebaninya.Semula saya tidak begitu memperhatikannya, karena saya kira batas nilai 4,01 tidaklah terlalu sulit untuk dicapai. Tapi ternyata karena target dan konsekuensinyalah siswa justru merasa terbebani, disamping ada faktor-faktor lain yang juga turut menambah keruwetan di dalam otaknya.Semoga UAN tidak untuk menghancurkan masa depan adik saya, karena kita semua tahu kalau otak yang kena, untuk sembuh mungkin bisa, tapi untuk pulih seperti sedia kala, itu memerlukan waktu dan terapi yang sangat melelahkan sekali.Saya tidak menyalahkan UAN 100% sebagai penyebab penyakit yang adik saya alami, karena saya semoga termasuk orang yang beriman. Tapi inilah cerita yang saya alami, di Januari Kelabu yang sangat menakutkan. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads