"Itu tidak gampang buat meniru. Mengapa? Karena pertama, perlu membeli alat. Kedua, perlu punya akses pada ATM, punya account sendiri," ujar Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala, saat berbincang dengan detikcom, Senin (25/1/2010).
Ketiga, lanjut Adrianus, seseorang yang ingin mempraktekkan kejahatan dengan modus canggih seperti itu harus berlatih cukup lama dengan risiko tertangkap. Keempat, di samping berlatih, pelaku perlu mendapatkan tutorial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Siaran itu bertugas memberikan knowledge atau untuk mengamunisi otak. Nah apakah pikiran otomatis menjadi tindakan kejahatan, saya pikir tidak," terangnya.
Adrianus mengajak semua pihak lebih melihat motif dan niat Ruby menunjukkan bagaimana cara-cara pembobolan rekening itu dilakukan. Ruby menurutnya hanya ingin menjelaskan duduk perkara supaya kewaspadaan masyarakat khususnya nasabah bank meningkat.
"Yang kedua, beliau kan diajak televisi dengan semangat publik untuk mengedukasi publik mengenai apa yang terjadi dan bagaimana menghindarinya. Terkait dua hal itu saja sudah cukup alasan bahwa tindakan Ruby tidak apa-apa," tutupnya.
Sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri Edward Aritonang menilai apa yang dilakukan Ruby dikhawatirkan bisa menjadi contoh bagi sekelompok orang untuk melakukan perbuatan itu.
"Bagi orang tertentu itu baik, tapi bagi orang tertentu juga itu buat membobol. Kita melihat kepentingan masyarakat banyak. Itu seperti ada tindakan seperti mengajari," ucapnya.
Roy Suryo juga telah mengirimkan SMS kepada sejumlah pihak yang mempertanyakan tindakan Ruby Alamsyah memeragakan penggunaan ATM bodong di televisi. Roy beranggapan semestinya Ruby tidak mempraktekkan cara penggunaan ATM bodong karena bisa dicontoh orang yang ingin berbuat jahat. (irw/asy)











































