Aduh Susahnya Orang Miskin Jika Tak Lulus UAN...

Aduh Susahnya Orang Miskin Jika Tak Lulus UAN...

- detikNews
Rabu, 21 Apr 2004 13:00 WIB
Jakarta - Hingga Rabu (21/4/2004), redaksi masih menerima keluh kesah dari keluarga yang anggota keluarganya hendak mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN). Mereka menilai, UAN belum waktunya diterapkan kecuali jika mutu pendidikan sudah merata.Yang paling menyedihkan adalah jika pelajar yang hendak ber-UAN itu adalah dari kalangan orang tidak mampu. Jika mereka gagal UAN, tentunya harus mengulang pelajaran setahun di kelas 3 SMP/SMU."Bagaimana dong nasib anak miskin seandainya tidak lulus UAN? Harus mengulang? Dari mana biayanya?" tanya Sonny seraya mengimbau agar Depdiknas terlebih dulu mencari cara bagaimana pendidikan bisa lebih murah dibandingkan harus memberlakukan UAN yang kontroversial.Sementara, Sari Sudarsono berniat mengikuti rencana aksi demo menentang UAN jika digelar nantinya. "Saya bukan orang tua murid, tapi saya juga sangat prihatin dengan rencana pemerintah mengadakan UAN dan siswa harus lulus dengan nilai minimal 4,01. Saya kasihan dengan anak-anak kita," aku Sari.Dari pantauannya di media massa, Sari melihat bahwa tidak ada niat pemerintah (Depdiknas) untuk membatalkan UAN. "Sehingga memang tidak bisa tidak, kelihatannya demonstrasi besar-besaran harus dilakukan. Karena ini menyangkut masa depan anak-anak kita, generasi penerus bangsa," kata Sari.Menurut Sari, ketimbang memaksakan UAN, seharusnya pemerintah memperbaiki akar permasalahan kualitas SDM kita yang rendah, bukan ujungnya. "Perbaiki kualitas dan gaji guru, perbaiki kurikulum berbasis hapalan menjadi kurikulum berbasis character building dan pemahaman, perbanyak buku bacaan yang murah, suplai buku-buku pelajaran sehingga murid dapat buku pelajaran gratis," kata Sari.Dengan perbaikan itu, kata Sari, otomatis tanpa harus meningkatkan nilai UAN, dia yakin para pelajar akan menjadi SDM yang berkualitas. Sari juga menceritakan pengalamannya tes wawancara."Selama pengalaman saya diwawancara untuk pekerjaan, yang mereka nilai selalu character saya, bukan nilai rapor atau jika saya hafal tahun-tahun bersejarah," demikian Sari.Trian Nugraha, seorang mahasiswa salah satu universitas pendidikan di Jakarta menyatakan, sebagai seorang kakak dari dua adik yang sekolah di kelas 3 SMP dan SMU, terlihat sangat berat sekali tanggung jawab mereka sebagai seorang siswa."Batasan nilai UAN dinaikkan sebanyak 4.0 terasa berat karena tahun kemarin saja sudah banyak kakak kelas mereka yang tidak lulus, ditambah lagi dengan angkatan mereka," cerita Trian."Ironis sekali kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, terkesan pemaksaan, karena peningkatan mutu pendidikan difokuskan pada hasil bukan pada proses belajar mengajar. Seharusnya pemerintah menaikkan mutu pengajaran sehingga yang namanya passing grade tersebut tidak menjadi dilema," kata Tria. Menurutnya, bagaimana bisa menaikkan passing grade jika sarana dan prasarana sekolah tidak menunjang, sekolah yang mau roboh, guru yang gajinya murah sehingga tidak bisa kreatif dalam pengajaran.Terlebih lagi dengan adanya UAN, setiap orang tua siswa harus merogoh uang yang tidak sedikit untuk sedikit memaksakan anak-anaknya ikut pelajaran tambahan baik melalui les di luar sekolah ataupun disekolah. "Dilema orang tua saya pun seperti itu, ketika anak-anaknya masih ada tiga orang yang sedang sekolah ditambah saya yang sedang kuliah, menjadikan masalah dana menjadi hal yang sangat riskan sehingga menimbulkan konflik dalam keluarga," keluh Trian."Pemerintah tidak becus, tetapi mencoba menerapkan standar tinggi. Dan lebih parahnya lagi membakukan standar disemua daerah, padahal kompetensi setiap siswa di daerah berbeda dengan yang di kota besar. sungguh ironis," demikian Trian.Punya keluhan soal UAN? Kirimkan ke redaksi@staff.detik.com. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads