Menggoncang Mega di Pilpres Lewat UAN

Menggoncang Mega di Pilpres Lewat UAN

- detikNews
Rabu, 21 Apr 2004 11:18 WIB
Jakarta - Ingatkah Anda empat hari sebelum coblosan 5 April, tarif telepon naik? Kebijakan itu disebut-sebut turut menyumbang kegagalan PDIP mengais kursi dalam pemilu legislatif.Pada Senin lalu, FPDIP DPR menggelar evaluasi penyebab kekalahan moncong putih. Disimpulkan, penyebab mereka keok adalah karena kebijakan pemerintahan Mega selama ini yang tidak populis. Guna menyelamatkan Mega dalam pemilu presiden (pilpres) pada 5 Juli nanti, maka Mega harus mengeluarkan kebijakan yang populis.Apakah kebijakan yang tampaknya populis, yang bisa dikeluarkan Mega dalam waktu dekat? Salah satunya, berkaitan Ujian Akhir Nasional (UAN).Sudah bukan rahasia lagi, UAN mendapat resistensi kuat dari para murid, guru dan wali murid. Apalagi UAN 2004 ini lebih ketat dibandingkan 2003. Tingkat kelulusan untuk Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika yang soalnya dipasok dari pusat (Jakarta) dipatok minimal 4,01. Sedangkan pelajaran yang lain, minimal 6. Yang tidak lulus UAN juga mesti mengulang lagi di kelas 3 SMP atau kelas 3 SMU. Beda dengan UAN 2003 yang tetap memberi Surat Tanda Kelulusan (STK), sehingga siswa tetap bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ironisnya lagi, kebijakan ini keluar mendadak, yaitu pada Februari dan diberlakukan Mei depan. Dana yang dianggarkan untuk UAN Rp 206 miliar plus pungutan per siswa Rp 3-50 ribu. Kebijakan ini menyebabkan pada siswa, guru, dan orangtuanya stres.Dan karena pemerintah tidak mau mundur dengan rencana penyelenggaraan UAN, sejumlah organisasi guru dan organisasi nonpemerintah yang tergabung dalam Koalisi Pendidikan membentuk Posko Pengaduan Korban UAN. Posko serupa dibentuk tiga organisasi pelajar Nahdlatul Ulama, yakni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pelajar Islam Indonesia (PII), dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang tergabung dalam KP3.Bahkan mereka juga mengancam akan menggelar demo besar-besaran ala Kampar saat melengserkan Bupati Jefri Noer, beberapa waktu silam. Mereka yang tidak mempunyai anak sekolah yang hendak ber-UAN pun ingin turut serta mogok untuk turun jalan. Tentu saja jika ancaman ini terbukti, akan menjadi masalah yang runyam.Coblosan 5 Juli sebentar lagi. Mega harus menarik massa dengan mengeluarkan kebijakan populis. Jumlah siswa SMU, guru dan orangtuanya yang dahsyat, tentunya adalah konstituen empuk yang mesti dirayu Mega. Membatalkan atau menunda UAN hingga sistem/SDM pendidikan siap menghadapinya, tampaknya bisa menjadi strategi Mega untuk turut menyumbang kemenangan. Mungkinkah? (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads