Menurut salah seorang dokter yang menangani kedua bayi kembar siam itu, dr Pudjiastuti SpA, dari hasil pemeriksanaan awal diketahui jumlah leukosit pada kedua bayi mengalami penurunan. Sedangkan pada bayi kedua trombosit darah juga mengalami penurunan.
Tanda-tanda infeksi terhadap kedua bayi itu, menurut Pudjiastuti, kemungkinan disebabkan karena ibu bayi mengalami pecah ketuban sebelum bayi lahir.
"Kami telah memberikan antibiotik kepada keduanya. Tetapi untuk memastikan apakah antibiotik itu cocok untuk infeksi yang diderita keduanya, kami masih harus menunggu pemeriksaan darah lagi lebih lanjut," ujar Pudji.
Selain itu, kedua kedua bayi juga megalami kekuningan. Hal itu dikarenakan kurangnya asupan makanan. Dipaparkan bahwa hanya salah satu bayi saja yang mau menerima asupan minuman yang diberikan, sedangkan satu bayi lain menolak asupan susu.
"Salah satu bayi bisa menyerap minuman melalui selang hingga 15 cc, tetapi bayi yang satunya saat diberikan 5 cc saja tidak bisa menerima. Kondisi inilah yang menyebabkan keduanya berwarna kuning dengan derajat diatas 1 tetapi kurang dari 2," ujarnya.
Sementara itu dari hasil pemeriksaan bagian dalam, diketahui kedua bayi memiliki dua buah jantung yang terpisah. Terdapat dua buah lever keduanya tetapi menempel di bagian bawah.
"Operasi pemisahan keduanya baru bisa dilaksanakan paling cepat sembilan hingga dua bulan mendatang. Saat ini yang bisa dilakukan tim dokter adalah menstabilkan kondisi kedua bayi," lanjutnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, bayi kembar siam Dewi Sri Lestari dan Devi Sri Lestari, dilahirkan di RS Dr Oen, Boyolali Selasa (19/1) lewat operasi cesar saat kandungan memasuki usia delapan bulan. Selanjutnya kedua bayi dirawat intensif di RS Dr Moewardi Solo.
Bayi kembar siam itu adalah anak pertama pasangan Agus Dwi Prasetyo (24) dan Priyantini (30), warga Dusun Kerten, Kepanjen, Delanggu, Klaten, Jateng.
(mbr/djo)











































