UAN, Potensi Konflik yang Terlupakan
Selasa, 20 Apr 2004 17:14 WIB
Jakarta - Tidak bisa dipungkiri, perhatian pemerintah, elit politik dan mayoritas publik sekarang mengarah pada pilpres 5 Juli mendatang. Isu ini membuat isu krusial lainnya terlupakan, demam berdarah dengue (DBD), kasus korupsi, dan juga...Ujian Akhir Nasional (UAN), pengganti Ebtanas.Padahal yang disebut belakangan justru menyimpan potensi konflik mengerikan. Ikatan Pelajar NU misalnya, sudah mengancam akan menggelar demo gede-gedean jika UAN dipaksanakan digelar Mei mendatang. Situasi Jakarta akan di-Kampar-kan. Ide ini juga mendapat sambutan dari orangtua murid dan warga.Sungguh UAN bermisi mulia: meningkatkan mutu lulusan sekolah. Tapi, coba lihat kondisi pendidikan di Papua saja. Di Maluku. Di Gunung Kidul. Bandingkan dengan sekolah elit di Jakarta. Tak bisa dipungkiri, kualitas sekolah di kota-kota yang disebut di atas, tidak seragam.Ketidakseragaman itu masih berderet. Ada siswa yang melarat, yang tidak kuat membeli buku pelajaran. Tidak kuat bayar les privat. Ada yang sekolahnya ambruk. Gentengnya bolong-bolong, bangkunya penuh kecoa. Tapi, ada juga sekolah mentereng. Muridnya les pelajaran ini itu. Dan, kondisi yang tidak seragam itu, saat pada siswa mau lulus, alamak, mereka diberi soal-soal ujian yang seragam. Tingkat kesulitannya sama. Padahal bekal yang mereka bawa, tidak sama.Sekali lagi, tujuan UAN sangat mulia. Pada tahun 2003, UAN memasang tingkat kelulusan dengan minimal 3,01 untuk 3 pelajaran yang soalnya dipasok dari Jakarta: Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika. Bisa dimaklumi, karena baru tahun itu diberlakukan, banyak yang tidak lulus. Tapi meski tidak lulus, masih bisa berafas lega. Siswa dibekali Surat Tanda Kelulusan (STK) untuk meneruskan sekolah. Meski demikian, sejumlah universitas negeri menolak STK.Tapi, tahun ini, kebijakan UAN diperberat. Standar kelulusan dinaikkan menjadi 4. STK juga tidak berlaku. Jadi, tidak lulus UAN, ya sudah, mesti tinggal kelas Ironisnya, kebijakan ini dikeluarkan Februari lalu, dan diberlakukan Mei nanti. Sangat mendadak.Tak ayal, ini bikin resah. Para siswa stres. Orangtua pun setali tiga ulang. Yang punya uang, les-les diambil. Ongkos tambahan pun terpaksa keluar. "Saking stresnya, sampai tidak bisa mengerjakan ujicoba UAN sehingga tidak lulus," keluh seorang bapak bercerita tentang anaknya.Dan jika protes tak juga didengar, satu-satunya cara, ya turun jalan. Dan demo besar-besaran di Kampar bulan-bulan lalu menjadi inspirasi.Konflik pun bisa tersulut. Jadi, waspadai UAN!
(nrl/)











































