Wali Murid Soal UAN: Apa Pendidikan Dilihat Sebagai Proyek?
Selasa, 20 Apr 2004 12:08 WIB
Jakarta - Redaksi detikcom menerima keluh kesah orangtua murid menyusul rencana Ujian Akhir Nasional (UAN) pada Mei mendatang. Mereka meminta agar UAN tidak dilihat sebagai proyek dan mendesak agar UAN dibatalkan.Berikut ini cerita orangtua murid bernama Eddy Fitter, untuk memperjelas betapa meresahkannya UAN:Dari pertemuan Wali Murid dengan Guru di Sekolah anak saya Sabtu kemarin bahwa untuk SMP ada 17 mata pelajaran yang akan diujikan didalam UAN ini dimana terdiri atas:Teori:1. Tiga mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Soal dibuat oleh Pusat dan diperiksa oleh Pusat dengan Komputer.2. Tujuh mata pelajaran dibuat oleh Pemerintahan Depok (kebetulan sekolahnya di bawah wilayah Depok). Pemeriksaan secara manual dan silang, sebagai contoh ujian yang diadakan di Sekolah A akan diperiksa oleh Sekolah B dstnya. Tidak tertutup kemungkinan satu sama lain sekolah saling menjatuhkan. Bahkan pelajaran Olah Raga yang selama ini bersifat praktek akan diuji teorinya juga. Sehingga guru Olah Raga harus berusaha membuat teorinya.Praktek:1. Tujuh mata pelajaran praktek diuji oleh Sekolah. Ketentuan:1. Nilai minimum 4.01. Artinya jika salah satu mendapat nilai 4.00 dari 17 mata pelajaran berarti tidak lulus meskipun yang lainnya (16 mata pelajaran) dengan nilai 9. Akan tetapi jika ke semua 17 mata pelajaran tersebut masing-masing mendapat nilai 4.01 berarti Lulus. Jadi bukan nilai 4.00 dari 3 mata pelajaran. 2. Tidak ada ujian susulan meskipun sakit. Saya berpendapat bahwa program ini sangat memberatkan meskipun telah diadakan Try Out. Saya mengusulkan agar ujian ini dibatalkan saja. Tolong dibantu bagaimana caranya mengingat waktu ujian UAN SMP yang semakin dekat yaitu dimulai tanggal24 Mei 2004. "Belum lagi hal lain yang sangat memberatkan adalah dimana tiap tahun selalu menggunakan buku baru. Ini tentunya biaya. Apa pendidikan hanya dilihat sebagai proyek?" protes Eddy.Keresahan senada disampaikan Suyanto. "Pertama sebagai orang tua sangat kecewa sekali dengan ketentuan nilai terendah adalah 4,1 sedangkan tahun sebelumnya nilai terendah adalah 3. Dengan dalih mengejar mutu siswa, justru siswa dan orang tua yang jadi sapi perahan," katanya.Pertama, siswa diwajibkan belajar tambahan pelajaran selam 2 jam. "Bisa dibayangkan anak kami yang sudah belajar selama 6 jam masih harus ada tambahan 2 jam. Apakah siswa itu akan tambah pengetahuan/wawasannya? Atau sebaliknya siswa itu bertambah bodoh/stres? Inilah yang tidak dipahami oleh para pembuat keputusan di atas," cetusnya. Kedua, justru dengan diwajibkanya belajar tambahan selama 2 jam, siswa wajib membayar Rp. 30.000,- perbulan untuk tambahan 2 jam itu. "Kesan dari orang tua adalah kesempatan bagi para guru untuk mendapat uang tambahan," gugatnya. Suyanto menyatakan, penetapan nilai 4,1 terlalu mendadak, harusnya disosialisasikan dahulu untuk 1 dan 2 tahun akan datang. Kedua, apakah tidak dimanfaatkan oleh oknum untuk mencari keuntungan pribadi(siswa wajib les dengan bayaran tertntu)?Lalu, apakah dengan nilai 4,1 mutu pindidikan kita akan membaik? "Bagaimana kalau semua sekolah tidak lulus, apakah tidak jadi bumerang bagi pendidikan?" demikian Suyanto.Sedangkan Vincent menyatakan, sebelum UAN diterapkan, tinggkatkanlah dulu fasilitas belajar mengajar serta pola belajarnya. "Yang penting di sini adalah kita menemukan apa yang kita ingin pelajari, yang tentunya ada masa basic program dulu untuk menyamakan pola dasar berpikir," kata Vincent."Itu lebih utama dan mendesak. Hargailah keinginan dan talenta generasi dan calon generasi Indonesia. Untuk pelaksanaan UAN, konfirmasi dan kaji serta sosialisasi yang maksimal. Jangan jadi birokrat intelektual saja," ungkapnya.
(nrl/)











































