"Sejak 24 November 2009 sampai hari ini, anak saya belum pulang ke rumah. Saat itu, dia sedang bermain dengan temannya. Pukul 11.00 WIB, temannya pulang, anak saya tidak pulang ke rumah," kata Ade.
Hal ini disampaikan dia di rumah kontrakannya, Jalan Kapuk Pasar Darurat RT 2 RW 12, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, (20/1/2010).
Setelah menunggu 1x24 jam, Ade kemudian melapor ke Polsek Cengkareng. "Menurut teman anak saya, Eneng (7), waktu diperiksa polisi dia menyatakan anak saya dibawa sama orang yang berkepala botak, kumisan dan berjenggot tipis. Dia digendong," papar Ade.
"Kalau hilang, pasti sudah kembali karena orang sini kenal semua sama anak saya. Ini pasti diculik karena hilangnya tidak wajar," lanjut dia.
Ade mengaku menerima SMS yang dikirim dari orang tidak dikenal seminggu setelah Eka diculik. Namun saat ditelepon balik, nomor yang menghubunginya tidak pernah diangkat.
"Orang itu minta ditransfer uang Rp 8 juta. Tenang saja, anak kamu sehat dalam keadaan baik'. Karena saya yakin dia penipu, saya diamkan saja," kata Ade.
Ade terus berusaha mencari anaknya. Dia memasang brosur pengumuman anak hilang yang disebar di Jakarta dan Bekasi. "Ya saya harap kalau ada yang menemukan segera diberitahu. Ciri-ciri anak saya, kulit sawo matang, tinggi 80 cm, tubuh agak gemuk, rambut hitam pendek dan berponi, mata sipit dan hidung pesek," ujar dia.
Sementara, ibunda Eka, Anissa, tampak terus menangis mengingat sang buah hati yang belum kunjung kembali ke pelukannya. Eka memiliki adik perempuan berusia 4 bulan.
(aan/nrl)











































