"Kejadian pertama di sekitar Oktober-Desember tahun lalu di Toronto. Sekarang sudah di Bali, bisa saja cepat sampai ke Jakarta," ujar seorang petinggi bank BUMN kepada detikcom, Rabu (20/1/2010).
Pria yang minta identitasnya dirahasiakan ini, sebelumnya menjabarkan modus operandi komplotan pembobol rekening dana nasabah bank di Toronto, Kanada. Tidak terlalu canggih tapi cukup licin, yaitu 'mengintip' nomor PIN ATM lalu membuat kartu ATM palsu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah nomor PIN didapat, komplotan kemudian membuat kartu ATM asli tapi palsu. Kartu ATM palsu itu yang kemudian oleh komplotan digunakan untuk melakukan tranfer dari rekening korban ke korban-korban lainnya sebelum pada akhirnya dana tersebut diambil.
"Uangnya dipindah-pindahkan dulu dari satu rekening ke rekening lain. Jadi bukan cuma satu nomor PIN yang diincar, tapi banyak nasabah sekaligus dan semuanya adalah korban," jelasnya.
Untuk melicinkan aksi transfer uang, maka transfer rekening tidak selalu di bank yang sama. Fasilitas jaringan ATM bersama yang dimanfaatkan benar oleh komplotan pembobol dan tidak jarang rekening sasarannya adalah milik warga negara asing.
"Untuk di Bali kan kejadiannya di ATM yang terletak di Sanur dan Kuta. Di situ banyak turis asing, mereka banyak juga yang jadi korban," pungkasnya.
Statemen resmi BCA sebelumnya menyatakan bahwa pencurian uang nasabah di Bali terjadi akibat pengintipann PIN oleh orang yang tidak berhak, saat nasabah melakukan transaksi di ATM BCA di Bali beberapa waktu lalu.
Seorang nasabah korban pencurian di Bali mengatakan, pergerakan uang yang dicuri dari rekeningnya sangat cepat. Pencuri memindahkan uangnya tiap 20 detik dari ATM yang berbeda-beda.Sementara, seorang nasabah BCA di Jakarta sebelumnya juga mengaku kehilangan simpanannya. Uang itu ditarik dari ATM non-BCA karena terdapat catatan ongkos penarikan Rp 25 ribu, padahal dia tak pernah menarik uang di ATM non-BCA. (lh/iy)











































