"Bagus mereka telah tiba di sni. Mereka tentara, tak perlu takut pada mereka. Mereka di sini untuk membantu kita," ujar Gregory Jeamblin, pria Haiti berumur 40 tahun.
Pasukan AS bersenjata lengkap ditempatkan di rumah sakit utama di Port-au-Prince yang rusak parah diguncang gempa. Jumlah mereka sekitar 100 personel atau lebih. Mereka langsung dikerahkan ke rumah sakit tersebut begitu mendarat di Port-au-Prince. Sebelumnya, militer AS juga telah ditempatkan di bandara dan mengambil alih pengaturan penerbangan di bandara tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih dari 100 Marinir AS juga diturunkan ke halaman istana kepresidenan yang rusak diguncang gempa. Mereka diturunkan dari beberapa helikopter AS. Hal ini ditanggapi kesal oleh sebagian warga Haiti yang memandang hal itu sebagai pelanggaran kedaulatan Haiti.
"Saya belum pernah melihat Amerika di jalan-jalan membagikan makanan dan minuman. Tapi sekarang mereka datang ke istana," cetus seorang warga, Wilson Guillaume seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (20/1/2010).
"Ini pendudukan. Istana adalah kekuatan kami, wajah kami, kebanggaan kami," kata warga lainnya, Feodor Desanges.
Menurut rencana sekitar 10 ribu tentara AS akan berada di Haiti. Pejabat-pejabat pemerintah AS bersikeras bahwa keberadaan militer AS bukan dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan militer, namun sebagai tanda dukungan.
"Kami di sini untuk memberikan pengamanan bagi rumah sakit. Kami bekerja sama dengan pemerintah Haiti. Ada aturan-aturan, tapi kami di sini untuk misi kemanusiaan. Mereka meminta kami membantu," kata seorang tentara AS, Sersan Bill Smith.
Sebelumnya Presiden Venezuela Hugo Chavez terang-terangan menuding AS berniat menduduki Haiti dengan dalih memberikan bantuan pascagempa.
(ita/iy)











































