"Akan menjadi sangat berbahaya kalau anak yang jadi korban tidak ditangani secara baik. Bisa jadi pandemik," kata psikolog anak dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Rani I Noe'man, saat berbincang lewat telepon, Selasa (19/1/2010).
Rani mencontohkan kasus mutilasi berantai dan sodomi yang dilakukan Babe. Perlakukan buruk masa kecil menjadi salah satu alasan Babe melancarkan aksinya. Babe diketahui pernah disodomi saat berusia 12 tahun.
Contoh lain terjadi di Jl Bangka, Jakarta Selatan. Menurut Rani, ada seorang anak yang pernah disodomi, lalu pada usia 10 tahun melakukan sodomi terhadap bocah 4 tahun.
"Anak tidak tahu. Awalnya mungkin ada kemarahan. Tapi di balik itu ada kepuasan dan kenikmatan. Dan kalau sudah sekali atau dua kali melakukannya itu akan ketagihan," jelasnya.
Penanganannya, imbuh Rani, bukan dengan cara represif. Bocah tersebut perlu ditangani secara kejiwaan oleh para psikiater dan psikolog.
"Bukan malah digebukin lalu diusir. Bayangkan, dia dalam sebulan memakan 6 korban. Berarti dia meninggalkan 6 bibit baru dan itu perlu ditangani secara baik," tegasnya.
Peran orangtua juga kembali diingatkan sangat penting. Terkadang, kata Rani, orangtua masih tabu untuk memberikan penjelasan tentang bahaya seksual pada anak.
"Tapi kalau tidak diajarkan oleh orangtua, kemungkinan dia menjadi pelaku di kemudian hari bisa berbahaya. Dan ini menular," tutupnya. Waspadalah!
(mad/nrl)











































