Menetap di Desa, Pelajar Australia Ajarkan Menghias Jilbab

Indonesia-Australia

Menetap di Desa, Pelajar Australia Ajarkan Menghias Jilbab

- detikNews
Senin, 18 Jan 2010 19:22 WIB
Bangka Belitung - Ada saja cara unik yang dilakukan pelajar Australia saat tinggal di desa Indonesia. Salah satunya mengajarkan ibu-ibu di Desa Matras, Sungai Liat, Kabupaten Bangka menghias jilbab.

Meski bukan ahli dalam urusan jahit menjahit, namun dua pelajar putri asal negeri kanguru, Nikki Edwards dan Elisabet Warnock nampak semangat memberikan ilmu baru untuk para warga.

Dibantu seorang pelajar Indonesia asal Jambi, Rini, keduanya cukup cepat menularkan ilmu menghias jilbab kepada ibu-ibu sekitar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Senang, akhirnya mereka memiliki keterampilan menjahit. Saya terpesona oleh kreatifitas mereka," kata Nikki saat ditemui detikcom di Desa Matras, Sungai Liat, Bangka Belitung, Senin (18/1/2009).

Nikki yang berasal dari Sidney ini, berdecak kagum atas karya ibu-ibu Desa Matras. Pasalnya, hanya dalam waktu tiga hari, ibu-ibu dapat membuat jilbab dengan manik-manik indah.

"Saya senang bisa berbagi dengan mereka," jelasnya dengan bahasa Indonesia sekedarnya.

Menurut Rini,Β  kursus kilat menghias jilbab untuk para ibu-ibu memang sejak awal diprogramkan dalam Australian Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) tahun ini.

Sebanyak 18 pelajar Australia dan 18 Indonesia hidup di desa selama satu bulan dan satu bulan berikutnya pindah ke kota untuk mengenal budaya satu sama lain.

Ide menghias jilbab tersebut datang dari Rini dibantu Nikki dan Elizabeth. Mereka memberikan pelatihan khusus pada belasan ibu-ibu selama beberapa hari.

"Kita hanya ajarkan mereka menjahit selama 3 hari. Setelah itu ibu-ibu ini mengkreasikan sendiri dan hasilnya? Tidak kalah kan dengan yang ada di toko?" Kata Rini.

Salah satu warga yang mendapatkan keterampilan ini, Tuti (42) mengaku sangat senang bisa belajar menghias jilbab. Selama ini, Tuti hanya bekerja mengurus rumah tangga dan anak-anaknya.

Tuti berharap keterampilan ini bisa membuatnya lebih produktif. "Sementara, untuk dipakai sendiri. Yah, kalau ada yang memberi modal, InsyaAllah saya mau buka usaha Jilbab," ujar Tuti dengan logat khas Melayu.

Di desanya, Tuti menjelaskan banyak ibu-ibu yang sebenarnya ingin memiliki usaha sendiri. Namun, karena tidak memiliki keterampilan dan modal yang cukup, sebagian dari mereka hanya diam di rumah.

"Kita juga ingin punya kesibukan, agar bisa menghasilkan (uang)," terangnya.

AIYEP adalah program pemerintah Indonesia-Australia yang bertujuan untuk lebih mengenal budaya satu sama lain. Dalam program ini, masing-masing negara mengirim 18 pelajarnya untuk hidup, belajar, dan bekerja di desa dan di kota.

Untuk tahun ini, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung dipilih menjadi desa pertukaran budaya. Umumnya, para peserta program ini berasal dari berbagai wilayah di masing masing negara dan berstatus masih sebagai mahasiswa.

Program ini merupakan kerja sama antara Kedubes Australia dan Kementrian Pemuda dan Olahraga Indonesia.
(ape/ndr)


Berita Terkait