Rombongan kepresidenan berhenti setelah perjalanan 10 menit dari kota Ngawi. 500 Warga sudah menunggu di pinggir sawah Desa Karangwetan, Kecamatan Geneng, Ngawi, Senin (18/1/2010). SBY sempat menanyai anak kecil gemuk yang menarik perhatiannya.
"Kelas berapa?" tanya SBY. Anak itu menjawab sudah kelas lima.
"Semoga sukses, rajin belajar," pesan SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang petani lain mengeluhkan turunnya harga gabah di saat panen. "Kami juga meminta petugas honorer penyuluh pertanian diangkat menjadi PNS," ujarnya.
Atas pertanyaan itu, SBY menjelaskan kalau anggaran negara harus dibagi secara adil. Namun SBY menjanjikan akan mengalirkan dana bantuan untuk petani. SBY pun berjanji akan mengangkat petugas penyuluh honorer menjadi PNS, namun harus sesuai proporsi kebutuhan penerimaan PNS.
"Waktu pemerintahan saya 5 tahun lalu, saya angkat 1 juta lebih tenaga honorer. Ke depan akan kita angkat juga tenaga honorer. Tunggu saja, pasti ada yang diangkat," kata SBY.
SBY juga menjelaskan turunnya harga gabah karena suplai melimpah namun pembeli tidak bertambah. Pemerintah akan menyesuaikan harga gabah sehingga tidak terlalu mahal untuk pembeli atau tidak terlalu murah untuk petani.
"Pemerintah akan menjaga sehingga harganya pas pada petani," jelasnya.
SBY dalam kesempatan itu menyumbang masing-masing Rp 25 juta untuk 5 kelompok tani. Tidak dijelaskan apakah itu uang pribadi atau anggaran Departemen Pertanian. Yang jelas, para petani pun bersorak riang.
"Alhamdulillah! Buat beli sapi!" kata para petani bersahutan.
(fay/iy)











































