"Anggito lebih fleksibel, kalau Sri Mulyani kan tanpa kompromi," ujar pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi pada detikcom, Senin (18/1/2010).
Burhan menilai figur Angito memang lebih bisa diterima oleh elite politik. Namun untuk reformasi di Departemen Keuangan, figur Sri Mulyani layak dipertahankan.
"Salah satunya, Sri Mulyani kan pernah menerima penghargaan Bung Hatta Anticorruption Award," terangnya.
Burhan menjelaskan, sebagai seorang profesional, Sri Mulyani memang tak diragukan intergritasnya. Kadang Sri Mulyani bahkan tidak segan bertentangan dengan elite politik.
Hal ini dinilai Burhan, membuat gesekan antara Sri Mulyani dengan para elite politik. "Bukan tidak mungkin ini menimbulkan iritasi," pendapatnya.
Dalam kasus bailout Century, Burhan meminta agar tidak semua kesalahan ditimpakan pada Sri Mulyani. Pansus Century harus bisa jernih melihat permasalahan ini.
Seperti dilansir The Jakarta Post, Senin (18/1/2010), seorang petinggi Golkar yang dekat dengan Ketua DPP Golkar Aburizal Bakrie mengatakan pada Minggu (17/1/2010) kemarin, Presiden SBY telah bersepakat dengan Ical untuk mencopot Menkeu Sri Mulyani. Calon penggantinya adalah Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu.
Namun sumber-sumber resmi di pemerintahan dan Golkar menyangkal adanya kesepakatan itu. Misalnya saja Wasekjen Golkar Lalu Mara, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Jubir Kepresidenan Julian Aldrin Pasha serta Mensesneg Sudi Silalahi.
(rdf/nrl)











































