Kegiatan ini diikuti 18 pelajar Australia dan 18 pelajar Indonesia. 36 pelajar tersebut menginap dan tinggal di sebuah desa selama satu bulan. Untuk tahun ini, desa Matras, Kabupaten Sungai Liat, Provinsi Bangka Belitung dipilih menjadi desa pertukaran budaya.
Selama hidup 1 bulan di desa, pelajar tersebut melakukan aktivitas layaknya orang desa. Mereka hidup, belajar dan bekerja.
Β
"Orang-orang di sini sangat baik, welcome and I love it," kata Brent Bloffwitch, salah satu peserta AIYEP asal Adelaide, Australia, saat berbincang-bincang dengan detikcom, Minggu (17/1/2010) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya memang suka bahasa Indonesia, terutama bahasa gaul," jelasnya.
Menurut Brent, melalui program ini dirinya mendapat banyak pengalaman dan
pengetahuan soal kehidupan masyarakat Pulau Bangka. Brent menjadi tahu begitu besarnya pengaruh budaya Melayu dalam sistem sosial masyarakat Bangka.
"Masyarakat di sini begitu santun pada pendatang seperti saya. Desa di sini berbeda dengan di Australia. Di sini orang-orang senang menyapa sesama tapi soal waktu suka terlambat," imbuh pemuda berbadan bongsor ini.
Selain Brent, ada juga Dave Latuny dan Lenny Marlina. Keduanya adalah peserta AIYEP Indonesia yang ikut mendampingi Brent cs di desa Matras. Sebelumnya, Dave dan Lenny sama-sama pernah tinggal di sebuah desa di Perth, Australia selama satu bulan.
"Saya mengajarkan bahasa inggris untuk para imigran-imigran di sana," cerita Dave.
Mahasiswa angkatan 2006 ini mengaku, banyak belajar hal positif dari Australia. Terutama mengenai pendidikan, etos kerja, dan budaya.
"Infrastruktur di sana sudah sangat baik. Apalagi kesadaran terhadap alam dan lingkungannya," tutur Dave.
Lain Dave lain pula cerita Lenny, perempuan asal Jayapura, Papua ini meluangkan waktunya dengan bekerja di sebuah coffee shop di Perth. "Saya berharap bisa kembali ke sana untuk bekerja dan memperluas ilmu saya," terang perempuan yang bekerja di Pemprov Papua ini.
(ape/her)











































