"Kita minta persoalan pungli yang marak di pelabuhan Tanjung Priok yang terjadi di semua lini dihapuskan," ujar Ketua Umum SBTPI, Ilhamsyah di depan Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (17/1/2010).
Menurut Ilham, dalam sehari para sopir kontainer dimintai uang Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Mulai dari garasi hingga kembali lagi ke garasi. Untuk kontainer khusus sehari bisa bahkan bisa keluar Rp 200 ribu. Padahal seharinya paling tidak ada 6.000 mobil kontainer yang lalu lalang di Tanjung Priok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
6 Pos itu adalah saat billing, survei, bea cukai, petugas timbangan, operator tanggo dan sekuriti. "Itu hanya di dalam pelabuhan, belum lagi yang ada di jalan seperti polisi dan DLLAJR," terangnya.
Ilham mengeluhkan semua pungli ini karena harus ditanggung oleh para sopir kontainer. Pihak perusahaan tidak mau menanggung karena tidak termasuk operasional dan tidak ada bukti pembayaran.
"Padahal sehari kita paling dapat komisi Rp 50 ribu. Itu untuk kerja 15 jam," keluhnya.
Para sopir ini pun lalu menggelar aksi long march keliling pelabuhan. Mereka pun mengancam jika masalah ini tidak segera diselesaikan, mereka akan melakukan mogok masal tanggal 28 Januari mendatang.
(rdf/anw)











































