"Waktu itu saya dibilangi suami saya tentang harga per kamar. Langsung saya bingung karena harus mengumpulkan uang Rp 100 juta dalam waktu satu hari," kata seorang istri narapidana yang minta dirahasiakan identitasnya saat dihubungi detikcom, Sabtu, (16/1/2010).
Langsung dia menghubungi saudara-saudaranya. Mengumpulkan uang cash dalam waktu singkat bukan perkara mudah. Seadanya uang di ATM pun dikumpulkan.
"Saya cinta suami saya, jadi bukan memberikan suap supaya dapat kamar layak," bebernya.
Lambat laun, menghadapi realita yang ada, amarah ini menjadi kepasrahan. Suaminya selalu berpesan supaya jangan membeberkan pungli tersebut karena tak ada tanda bukti.
Alih-alih mencari keadilan, bisa-bisa persoalan pungli jadi masalah serius. "Kan kayak gitu susah dibuktikan. Tak ada tanda bukti. Yang penting suami saya selamat," kisahnya.
Kini, kepasrahan tersebut berubah menjadi hikmah. Dia mulai mencoba meresapi semua pengalaman dan proses pidana yang dialami suaminya. Ibarat sekolah, tak ada yang gratis. Di penjara, banyak hikmah yang diambil.
"Ya hitung-hitung biaya sekolah. Termasuk bergaul dengan penjahat seperti perampok, itukan juga ilmu," pungkasnya menutup pembicaraan.
(asp/gus)











































