Chairuddin Idrus dan rombongan pertama kali bergerak ke LP Kedungpane.Β Di LP yang terletak dijalan menuju Boja Kendal ini, mereka langsung mengecek sel isolasi, tempat para napi hukuman berat berada. Chairuddin menemui dan berdialog dengan mantan Bupati Kendal yang tersandung kasus korupsi, Hendy Boedoro.
Ruangan Hendy berukuran 2,5 x 2,5 meter plus kamar mandi. Di dalamnya terdapat ranjang dengan kasur tipis dan tabung oksigen. Di kamar napi lain juga ada kasur tipis, tapi lebih banyak yang hanya dilengkapi tikar.
"Sebelum masuk, beliau sudah sakit. Makanya ada tabung oksigen," kata Chairuddin.
Usai dari ruangan Hendy, rombongan menuju Blok A. Blok ini dihuni napi pidana umum. Kondisinya agak kumuh. Jemuran pakaian berjejer di jeruji besi. Di tengah blok terdapat semacam aula yang dilengkapi dengan satu unit televisi, meja tenis meja, dan papan catur.
Saat rombongan melihat-lihat kamar, para napi terlihat duduk-duduk di aula. Mereka terkesan cuek. Beberapa di antaranya asyik bermain catur.
Rombongan tak mengecek blok lain, melainkan menuju LP Wanita Bulu yang jaraknya sekitar 10 Km dari LP Kedungpane. Sempat ada adu argumen antara wartawan dan petugas LP, karena pihak LP meminta wartawan meninggalkan ponsel. Wartawan mengalah, meski satu dua orang terlihat nekat membawa ponsel.
Di LP yang berjarak 3 Km dari pusat kota itu, rombongan mengecek kamar, aula, ruang menjahit, dan ruang medis. Chairuddin menyempatkan berdialog dengan sejumlah napi.
Sidak ini mirip kunjungan biasa. Apalagi setelah diamati, di papan pengumuman LP ternyata tertulis, "Pukul 13.30 WIB, rombongan Kakanwil Depkum HAM sidak."
(try/djo)











































