Dalam enam tahun perjalanannya, busway justru semakin terpuruk dan cenderung mengalami kemunduran dari segi sterilisasi jalur, kebersihan halte, dan kepastian jadwal.
"Sejak enam tahun kelahiran busway, keberadaannya tidak lebih baik, tetapi malah semakin buruk dan berjalan mundur," ujar peneliti Institut Transportasi (Instran), Izzul Waro, dalam jumpa pers tentang 'Refleksi 6 Tahun Bus TransJakarta' di Newseum Cafe, Jl Veteran I, Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Juga termasuk buruknya pelayanan busway dan kesan busway dibiarkan beroperasi seadanya," katanya.
Izzul melanjutkan, busway seharusnya dapat menjadi tumpuan warga Jakarta ketika kemacetan dari waktu ke waktu semakin parah. Namun, keamanan dan kenyamanan yang kurang, membuat jumlah penumpang mengalami fluktuasi.
"Ini juga karena busway sekarang tidak berbeda dengan naik metromini yang waktunya tidak pasti dan berjubel, selain di beberapa koridor sopirnya sering ngebut," jelasnya.
Selain itu, tambah Izzul, halte yang kotor dan dan cenderung berubah menjadi pasar membuat para penumpang melihat busway tidak ada bedanya dengan metromini.
"Misalnya dengan keberadaan tukang ojek di pelataran kaki shelter dan munculnya pedagang asongan yang tidak tertata. Sebut saja itu terjadi di Harmoni, Bendungan Hilir, Sarinah, dan Kampung Melayu," sebutnya.
Untuk mengingkatkan pelayanan busway, Izzul berpesan kepada pengelola busway agar segera melakukan pembenahan diri melihat kemunduran yang terjadi sejak enam tahun lalu.
"Jalur yang steril, pelayanan busway, tiket otomatis, dan keamanan harus segera dibenahi," pungkasnya.
(fiq/nvc)











































