"Saya itu kader Golkar, makanya saya panggil Pak JK dengan 'daeng'," kata Ruhut dengan spontan. Omongan itu muncul saat Ruhut diprotes karena memanggil JK dengan 'daeng'.
"Huuu! Golkar apa Demokrat?!" teriak penonton di balkon ruang pansus di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (14/1/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, Ruhut mendapat teguran ketua sidang Mahfudz Siddik agar dalam bertanya langsung pada fokus pertanyaan. Bukan Ruhut kalau tidak membantah. Dia bersikeras memiliki hak berbicara. Dia juga menyinggung bahwa apa yang dilakukan itu karena diperintah SBY.
"Perintah Pak SBY, saya harus membuka permasalahan Century agar terang benderang. Saya ingin semua terang benderang," kata Ruhut mengeles.
Pengakuan Ruhut menjadi kader Golkar ini muncul saat Ruhut dengan gayanya yang ngocol selain menyampaikan pertanyaan-pertanyaan, juga menyebut JK dengan sebutan 'daeng' (panggilan untuk orang yang dihormati di Sulsel).
Rupanya panggilan 'daeng' ini dianggap beberapa anggota pansus seperti Akbar Faizal terlalu berbau SARA. Panggilan Ruhut juga mendapat protes peserta dan anggota yang membuat Ruhut mempertahankan panggilannya dengan alasan mengaku sebagai kader Golkar.
Sebelum pindah ke Partai Demokrat, Ruhut adalah kader Golkar yang beberapa kali nyaleg tetapi selalu gagal. Baru setelah menjadi kader PD, Ruhut mendapat kesempatan menjadi anggota dewan untuk pertama kalinya.
(yid/nrl)











































