"Kalau dikaitkan dengan penjualan organ tubuh, ya nanti dulu. Belum ada faktanya begitu. Mutilasi ada, iya, penjualan organ tubuh iya. Seolah-olah ada hubungannya, tetapi mana faktanya?" kata Kriminolog dari Universitas Indonesia Adrianus Meliala saat dihubungi detikcom, kamis (14/1/2010).
Untuk membuat jaringan bisnis penjualan organ tubuh, menurutnya bukan pekerjaan mudah. Skala bisnis yang besar mengandung resiko besar sehingga sulit dilakukan oleh psikopat amatiran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyimpulkan, sejauh ini alasan memotong-motong tubuh manusia (mutilasi) masih bersifat psikis atau kejiwaan. Belum ada bukti yang menunjukan pelaku mutilasi didorong oleh faktor ekonomi yakni menjual organ tubuh korban.
"Kita tunggu penyelidikan polisi, ada faktanya apa tidak, ada kaitannya apa tidak. Faktor mutilasi masih psikis sekali," tegasnya.
(Ari/fay)











































