Minyak Tanah Langka, Nelayan Semarang Kalang Kabut
Jumat, 16 Apr 2004 14:24 WIB
Semarang - Belakangan ini, kelangkaan minyak tanah di Jateng - DIY terjadi. Tak hanya rumah tangga dan sektor usaha yang terkena dampaknya, tapi juga kalangan nelayan. Nelayan Semarang, salah satunya.Nelayan Bandarharjo Semarang Aman (29) mengatakan bahwa setiap hari memang masih ada minyak tanah. Hanya saja jumlahnya kian minim. Padahal, kebutuhan akan minyak tanah terus bertambah.Setiap hari, kata dia, setiap perahu dengan 10 ABK membutuhkan 15 - 20 liter minyak tanah. "Tapi karena jumlahnya tidak mencukupi, setiap nelayan hanya mendapatkan separuhnya. Akibatnya, kami terganggu untuk melaut," katanya kepada detikcom di rumahnya, Jl. Lodan Raya, Semarang, Jumat (16/04/2004).Bahkan, lanjutnya, pernah satu hari tidak ada minyak tanah sama sekali. Para nelayan pun tak ada satu pun yang melaut. Bayu (25), salah satu nelayan lainnya, mengatakan hal yang sama. Di daerahnya, hanya ada satu pengecer. Dari situlah setiap orang membeli minyak tanah, baik untuk keperluan melaut atau rumah tangga. Satu liter dibeli seharga Rp 1.250. "Kalau tidak melaut, kami yang masih muda-muda bekerja borongan di pabrik sekitar Semarang. Dari pada nganggur/i>," tuturnya.Kelangkaan minyak juga membuat salah satu pemilik yang enggan disebut namanya, mau menjadi pengecer asal ada minyak tanahnya. "Iya, mas. Kalau ada barangnya (minyak tanah) saya mau menerima dan menjualnya. Itu sangat dibutuhkan di sini," kata perempuan paruh baya itu.SPBU IlegalBaik Aman mau pun Bayu mengatakan bahwa kelangkaan minyak tanah terjadi karena banyaknya SPBU ilegal. "SPBU ilegal ada di sepanjang jalan arteri. Kalau tidak percaya lihat saja sendiri," kata Aman tegas.Para nelayan, kata dia, sering menangkap basah sopir truk yang membeli minyak tanah. Mereka menggunakannya sebagai campuran bahan bakar yang biasa dikenal dengan 'irex' (campuran solar dan minyak tanah)."Dengan begitu, mereka bisa menghemat uang bahan bakar. Kata orang, praktek mereka dilindungi oleh oknum aparat keamanan. Jadi, nggak ada yang berani mengungkapkan," kata Bayu.Menurut pantauan detikcom setiap hari memang banyak truk yang diparkir di tepi jalan arteri, jalan Semarang bagian utara. Tak jelas betul, apakah sopirnya sedang istirahat atau memang menunggu jatah minyak tanah.
(asy/)











































