"Perilaku Denny malah positif untuk mendobrak kebiasaan sidak yang selama ini mungkin tidak murni. Sidak yang selama ini hanya abal-abal dan penuh basa-basi, mesti dirubah total dengan cara seperti yang dilakukan oleh Denny," ucap Koordinator Pusat Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B Nahrawardaya kepada detikcom, Kamis (14/1/2010).
Menurut Mustofa, petugas pintu Rutan yang terletak di Jakarta Timur itu tampaknya belum menyadari tentang arti sidak. Sidak memang harus mendadak dan tidak terkirakan sebelumnya bagi yang disidak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan-jangan memang kerja seperti itu sudah menjadi sistem dan penyakit menahun yang justru diciptakan sendiri oleh oknum petinggi-petinggi di lapas," tanyanya.
Dalam konteks seperti itu, lanjut Mustofa, Denny dan seluruh personel yang dibawa dalam sidak memang harus cepat, tegas dan tidak melalui proses administrasi seperti biasa. Lagi pula, Satgas memiliki tugas khusus sehingga resiko yang harus ditanggung adalah adanya tabrakan kepentingan yang harus dilalui.
"Petugas Lapas harus rela menerima kenyataan dan tak boleh kaget. Untuk Deny Indrayana, silahkan jalan terus, lanjutkan, karena anda benar," tandas Mustofa.
Denny sendiri telah memberikan tanggapan mengenai protes dari petugas Rutan itu. Dalam format sidak pada Minggu (10/1) tersebut, menurutnya, harus dihindari betul adanya kebocoran. Satgas khawatir, bila terlalu administratif, akan bocor ke telinga Artalyta "Ayin" Suryani melalui HP dan lain-lain.
"Justru petugas Lapas yang meminta satgas memulai administrasi dengan proses yang lama, menunjukkan dia tidak mengerti makna sidak. Dan petugas semacam itu amat mungkin bagian dari petugas yang selama ini terkontaminasi praktik mafia hukum di penjara," ujar Denny.
(irw/Ari)











































