"Kita pernah dengar rumor bahwa dia (Sri Mulyani) merasa ditipu, bahwa pencairan dana tidak sebesar yang dibayangkan, dari Rp 632 miliar ternyata menjadi Rp 6,7 triliun," ujar aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak), Effendi Ghazali, saat dihubungi melalui telepon, Selasa (12/1/2009) malam.
Effendi mengatakan, rumor tersebut harus diklarifikasikan oleh pansus kepada yang bersangkutan. Karena nantinya bisa diketahui sejauh mana peranan Sri Mulyani yang selama ini dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam kasus Century.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, pansus juga harus mampu memberikan pertanyaan kejutan. Pansus diminta untuk tidak terlalu bertele-tele dalam bertanya.
"Terlalu lama proses kerja pansus, yakinlah kalau ujung pansus seperti ini masyarakat makin bosan, enggak ada pertanyaan kejutan," tegasnya.
Dikatakan Effendi, terlalu lamanya kinerja pansus bisa dilihat pada pemeriksaan terhadap Wakil Presiden Boediono yang dilakukan Selasa (12/1). Pemeriksaan tersebut dianggap tidak ada nilai tambah. Menurutnya, pertanyaan pansus tidak ada bedanya dengan pertanyaan pada pemeriksaan pertama.
"Untuk pengulangan tadi tidak ada nilai tambah, ada beberapa nilai tambah tapi tidak se-urgent yang pertama," ucapnya.
Namun demikian, Effendi menegaskan, penilaian kinerja Pansus Century baru bisa dilakukan setelah 3 saksi yang ditunggu-tunggu selesai diperiksa. Oleh karena itu, pansus harus bisa meningkatkan kinerjanya.
"Yang ditunggu kan 2 orang, yaitu Bu Sri Mulyani dan Pak JK. Kita tunggu 2 orang ini, baru kita bisa katakan ujungnya membosankan atau ada kemajuan," ujarnya.
"Mungkin juga 3 orang, yang satu Budi Sampoerna. Seru ditanya kok anda bisa minta memecah-mecah pencairan dana itu," imbuh dia.
(nvc/ape)











































