"Itu dia mengambil mengambil posisi abu-abu, posisi aman, mungkin dia menunggu perkembangan, Pak Boediono kan figur yang penyabar tidak kontroversial," sindir anggota pansus Century dari FPDIP Prof Hendrawan Supratikno.
Hal ini disampaikan Hendrawan usai pansus Century melakukan pemeriksaan Boediono di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/1/2010) malam.
Pendapat serupa disampaikan anggota pansus Century dari FPKS Fahri Hamzah. Fahri kecewa karena Boediono menurutnya tidak menjelaskan secara clear.
"Kita secara bertubi-tubi dihadapkan dengan penjelasan yang tidak tuntas dan publik dihadapkan pada situasi yang tidak enak," keluh Fahri.
Padahal, menurut Fahri, Boediono adalah tokoh kunci dalam skandal Century. Kalau keterangan tidak jelas, bisa saja posisi Boediono malah makin sulit.
"Saya mengatakan Pak Boediono berkelit. Padahal kalau kita telan mentah-mentah audit BPK, dia yang paling bertanggungjawab," jelas Fahri.
Pemanggilan sebelumnya, dalam topik merger Century, Boediono juga dinilai sama tidak jelasnya. "Waktu itu Pak Boediono membantah audit BPK," kritik Hendrawan.
Fahri pun mengkritisi serupa. Fahri tidak melihat progres berarti dari keterangan yang disampaikan Boediono selama dua pemanggilan pansus. "Karena itu momen pertama saya bisa mengerti dia lebih banyak menjelaskan dengan asumsi yang terbatas. Tapi sekarang jangan-jangan dia nonton (TV), tertutup pun dia harus punya report agar dia bisa minta breafing, kan dia punya partai disini (FPD), kesannya dia tidak siap," ujar Fahri kesal.
"Dia tidak pernah memperjelas apa yang ditanyakan anggota pansus. Saya curiga memang dibuat tidak jelas karena waktu kita sempit, jadi nanti ada negosiasi politik," tutup Fahri dengan nada kecewa.
(van/ape)











































