"Menurut saya hal ini sangat-sangat tidak bisa ditolerir, apalagi menyangkut hubungan antara negara," kata pengamat politik internasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Awani Irawati kepada detikcom, Selasa (12/1/2010).
Apalagi, menurut Awani, Indonesia selama ini banyak belajar soal ESDM kepada Jepang. Sehingga batalnya pertemuan di Kantor Menteri ESDM sangat disayangkan.
"Dari dulu kita banyak belajar dengan Jepang soal ESDM. Jangan sampai terulang lagi," pinta Awani.
Sebagai seorang menteri, lanjutnya, harusnya pihak protokoler Darwin Saleh telah menyiapkan jauh-jauh hari sebelumnya dan mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.
"Secara protokoler, harusnya sudah disusun. Apalagi Jepang terkenal on time, jadi benar-benar harus diperhitungkan. Kan ada voorijder," sesalnya.
Batal bertemu di Kantor ESDM, namun akhirnya Darwin bertemu dengan Naoshima di Hotel Gran Hyatt, tempat dia dan rombongan dari Jepang menginap. Dalam pertemuan itu, Naoshima sempat menyindir Indonesia butuh bantuan infrastruktur jalan agar tidak macet lagi.
(anw/ita)











































