"Ini (kenaikkan peredaran uang palsu) terlihat dari naiknya laporan masyarakat dan temuan aparat kepolisian terkait uang palsu," kata Kepala Kas Kantor BI Yogyakarta, I Nyoman Dharma, usai acara diskusi Perekonomian DIY 2009 dan Prospek 2010, Senin (11/1/2010).
Nyoman menambahkan, percetakan uang palsu dan jaringan peredarannya juga ditemukan di DIY. Jadi, sambung Nyoman, DIY bukan hanya daerah peredaran tetapi juga daerah pembuatan upal.
Menurut Nyoman, dari 905 lembar Upal yang beredar di tahun 2009, 298 lembar di antaranya merupakan temuan Polda DIY. Sebanyak 12 lembar temuan Polres Sleman, 14 lembar temuan Polres Bantul, dan 583 lembar temuan Poltaabes Yogyakarta.
"Temuan terbesar memang dari Poltabes Yogyakarta yaitu pada bulan Maret sebanyak 279 lembar dan pada Agustus 203 lembar," ungkap Nyoman.
Masih menurut Nyoman, sekitar 70 persen atau 669 lembar dari upal itu berbentuk pecahan Rp 100 ribu cetakan tahun 1999 dan 2004. 25 Persen atau 202 lembar di antaranya pecahan Rp 50 ribu cetakan tahun 2005, 1999 dan tahun 1993.
"Sisanya 5 persen atau sebanyak 34 lembar terdiri dari pecahan Rp 20 ribu 25 lembar, pecahan Rp 10 ribu 5 lembar dan Rp 5 ribu sebanyak 4 lembar atau uang pecahan kecil," pungkas Nyoman.
(bgs/djo)










































